Festival Alimpaido, Agar Jangan Jadi Tamu di Rumah Sendiri

oleh -6 views
Salah satu permainan tradisional yang menjadi bagian pertandingan (Asop Ahmad/Siap Belajar)
Arrief Ramdhani
Salah satu permainan tradisional yang menjadi bagian pertandingan (Asop Ahmad/Siap Belajar)
Salah satu permainan tradisional yang menjadi bagian pertandingan (Asop Ahmad/Siap Belajar)

TASIKMALAYA, SB – Berbagai cara dilakukan untuk menanamkan rasa memiliki budaya sendiri pada generasi sejak dini. Seperti yang digelar minggu kemarin di halaman Gedung Bupati.

Dinas Pariwisata dan Kebudayaan berkolaborasi dengan Dinas Pendidikan Kab. Tasikmalaya menggelar festival Alimpaido. Dalam kegiatan tersebut beberapa permainan tradisional Sunda dipertandingkan dan melibatkan siswa, masing-masing lima orang perwakilan dari tiap kecamatan.

Secara umum, permainan menggunakan alat dari bambu. Penilaiannya juga cukup simple. Jika tim tertib melakukan setiap rangkaian permainan dan paling cepat, itu menjadi katagori pemenang dari perlombaan tersebut.

Menurut Cupit Danuwarta koordinator pelaksana, kegiatan semacam itu di Kabupaten Tasikmalaya sudah dilaksanakan dua kali dan akan menjadi acara rutin di setiap tahunnya. Dengan adanya kegiatan tersebut diharapkan generasi muda Tasikmalaya bisa menemukan jati dirinya sebagai rakyat pasundan yang sejak dahulu terkenal dengan keramahan dan kebudayaannnya.

“Minimal dengan terus menerus diadakan kegiatan seperti ini para generasi bisa memahami pentingnya dan manfaatnya budaya sendiri, di tengah derasnya arus budaya luar yang hari ke hari semakin merasuki pikiran remaja masa kini. Kita sengaja dalam kegiatan ini usia peserta dibatasi maksimal 13 Tahun,” tutur Cupit kepada Siap Belajar.

Hal senada diungkapkan Asep Akbar S.Pd, pengajar SMP Negeri 1 Cigalontang yang saat itu menjadi pendamping dari kelima muridnya sebagai peserta utusan dari Kecamatan Cigalontang. Ia menilai, acara itu sangat positif.

“Seharusnya pemerintah menjadi benteng dan pelopor keberlangsungan tatanan kehidupan di tatar pasundan, salah satunya menjaga aset kebudayaan sendiri, khususnya di Kabupaten Tasikmalaya,” tandasnya.

Wildan Nurdiansyah (14), siswa kelas VIII SMP Negeri Cigalontang, mengaku dapat pengalaman dan ilmu baru terkait ragam budaya serta permainan khas Pasundan. “Selama ini kita dininabobokan dengan berbagai budaya barat. Kita seakan menjadi orang asing di negeri sendiri,” ujarnya seraya berharap, kegiatan seperti itu rutin dilaksanakan. (Asop Ahmad/Siap Belajar)