Farmasi ITB, Dari Bangku Kuliah ke Gerakan Sosial

oleh -18 views
Kampus ITB
Arrief Ramdhani
Kampus ITB
Kampus ITB

EMPAT harapan kerap disematkan pada kaum mahasiswa. Iron stock (aset bangsa), Guardian of Value (penjaga nilai moral masyarakat), social control (Generasi Pengontrol) dan Agent of Change (agen perubahan). Mahasiswa baru Fakultas Farmasi angkatan 2013 mencoba menjawabnya.
Sepanjang hari, Yayasan Madinatulfurqon Cisarua Kabupaten Bandung Barat dipenuhi mahasiswa, Minggu (17/11/2013). Ada 46 mahasiwa baru angkatan 2013 dari Fakultas Farmasi ITB. Di tempat itu, mereka ingin membuktikan karya nyata di bidang sosial.

Anggapan mahasiswa era ini yang hedonis dan bermental tempe tak sepenuhnya benar. Karya pertama itu, menjadi penerang pengamalan Dharma pengabdian pada masyarakat dalam Tri Dharma Perguruan Tinggi.

“Kami ingin memberikan makna bagi adik-adik disini,” ungkap Bieqo Diar Romadhon (19), ketua pelaksana kegiatan, saat ditemui INILAH di sela bakti sosial bersama seratusan anak yatim dan kaum dhuafa di yayasan tersebut, Minggu (17/11/2013).

Bieqo dan puluhan teman seangkatannya itu bukan dari organisasi kemahasiswaan tertentu. Mereka angkatan kuliah yang memiliki visi sama yakni sosial. Satu bulan sebelumnya, di sela-sela padatnya waktu kuliah, mereka terus mempersiapkan rencana bakti sosial tersebut.

“Hasil dari pengumpulan dana selama satu bulan itu, terkumpul uang Rp5,5 Juta, sejumlah barang-barang seperti buku pelajaran, buku bacaan, buku pelajaran, seragam sekolah, pakaian sehari-hari, alat kebersihan dan konsumsi untuk makan siang bersama,” ujarnya.

Setelah material terkumpul itu, mereka kemudian melakukan survei lokasi pendistribusian bakti sosial yang akhirnya jatuh ke yayasan madinatulfurqon yang membina ratusan anak yatim dan dhuafa. “Kami survei lokasi ini dua pekan yang lalu, lokasinya cocok,” katanya.

Pada hari-H pendistribusian, mereka merencanakan agenda bersama anak-anak di yayasan tersebut. Mereka menyusun berbagai acara mulai dari pagi hingga sore.

“Kebetulan adik-adik di yayasan ini sedang libur. Kami menyiapkan rangkaian acara yang bisa diikuti oleh semua,” tuturnya.

Sejumlah rangkaian acara mulai dari training motivasi, games dan berbagai simulasi hingga pola pembinaan tutor sebaya ala mentoring.

“Adik-adik ini dibagi ke dalam beberapa kelompok, kemudian dari kami mahasiswa berbagi inspirasi kepada mereka dalam kelompok itu. Intinya kita berbagi ceria, seneng-seneng, ada yang nyanyi dan lainnya,” terangnya penuh semangat.

Dengan peserta terbatas, pembinaan model begitu akan menjalin hubungan emosional yang erat. Transfer ilmu menjadi efektif dan penyebaran virus semangat mengejar impian dan cita-cita bisa fokus dan masif.

“Bukan hanya materi yang ingin kami beri. Kami ingin adik-adik di sini semangat menggapai cita-cita yang tinggi,” jelas pemuda asal Nganjuk Jawa Timur ini.

Rangkaian acara diikuti anak-anak usia 8-15 tahun dengan penuh antusias. Mahasiswa dan anak-anak di yayasan itu berbaur menjadi satu. Sejak acara pemberian materi motivasi, games, salat
berjamaah, mentoring dan makan siang bersama terlihat rona-rona ceria di wajah mereka.

“Selain ingin membantu adik-adik yatim dan dhuafa di sini, kami juga ingin mengasah kepekaan sosial rekan-rekan mahasiswa,” ujar ketua angkatan Kurnia Permadi (18), ikut menambahkan di sela-sela kegiatan.

Para mahasiswa ini, terangnya, secara langsung akan merasakan bagaimana tanggung jawab sosial kemasyarakatan. Peran mahasiswa harus menjadi motor pengerak untuk mengubah bangsa dari berbagai sektor, menjadi bagian solusi atas berbagai problematika umat.

Acara tersebut rencananya bukan hanya digelar sekali saja. Ada follow up yang berlanjut. “Rencananya ada follow up lagi, kemungkinan tempatnya di sini atau lokasi yang lainnya,” tandas Bieqo.(inilahkoran.com)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.