Eco Aerator, Inovasi ITS Bagi Petani Tambak

Saturday 05 October 2013 , 0:53 AM
Foto : Eco Aeator, inovasi ITS untuk petani tambak/ITS

Foto : Eco Aeator, inovasi ITS untuk petani tambak/ITS

PETANI tambak kerap merugi akibat hasil panen tidak maksimal. Salah satu alasan yang menjadi penyebab persoalan tersebut adalah kurangnya kadar oksigen yang diserap ikan untuk bernafas.
Melihat kondisi tersebut Aditya Rifa Utama, M Jauhar Fathoni, Ardiansyah, M Fasih Mubarok, dan Hendra Antomy tergerak untuk melahirkan inovasi baru agar hasil panen dapat maksimal. Kelima mahasiswa Teknik Elektro Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya itu pun menuangkan ide dalam karya tulis berjudul Eco Aerator : Inovasi Penyuplai Oksigen dengan Teknologi Vertical Axis Wind dan Archimedes Screw Guna Menurunkan Biaya Operasional Petani Tambak.

Uniknya, lima sekawan yang sama-sama sedang menempuh tahun ketiga perkuliahan itu membangun ide ini dari pengalaman nyata. ”Ini ide dari Adit, kebetulan kakeknya punya tambak sehingga dia tahu persis apa yang terjadi di dalamnya,” kata M Jauhar Fathoni, seperti disitat dari ITS Online, Jumat (4/10/2013).

Jauhari menjelaskan, Eco Aerator yang berhasil meraih emas dalam Pekan Ilmiah Nasional (Pimnas) XXVI itu berfungsi untuk menjaga kadar oksigen yang terkandung dalam air. ”Seperti aerator diesel, tapi Eco Aerator ini lebih hemat energi dan efisisen,” ujarnya.

Perbedaan mendasar antara aerator diesel dengan Eco Aerator terlihat dari segi efisiensi. Aerator diesel memerlukan bahan bakar yang terbilang mahal untuk mengelola tambak, sedangkan Eco Aerator hanya menggunakan angin sebagai sumber energi.

Eco Aerator memiliki tinggi lima meter dan dapat mencapai radius hingga lima meter di sekelilingnya. Bagian paling atas dari Eco Aerator adalah lima blitz untuk menangkap angin.

“Ketika menerima angin, bagian bawah kincir atau gir bergerak untuk mempercepat aliran air yang akan dialirkan di aerator. Air akan mengalir naik ke aerator sehingga terjadi kontak langsung dengan udara,” jelas Jauhari.

Kurang lebih 0,5 liter air per menit dapat melalui aerator tersebut untuk kontak dengan udara dan kemudian kembali lagi ke tambak. Dengan proses seperti itu, air akan lebih kaya oksigen.

Hal tersebut telah diuji coba beberapa kali dalam skala lebih kecil yakni menggunakan aquarium sebagai pengganti tambak. Terbukti setelah menggunakan alat tersebut, kadar oksigen di air akuarium meningkat.

Untuk mengoperasikan alat tersebut pun tidak diperlukan keahlian khusus karena sudah bekerja secara otomatis. ”Petani tambak hanya perlu melakukan perawatan teratur saja agar alat berjalan dengan baik, seperti member pelumas pada gir atau membersihkan aerator dari lumpur,” paparnya.

Eco Aerator dibuat untuk mengurangi kerja aerator diesel karena bisa bekerja kapan pun selama ada angin. Sehingga ketika malam hari aerator tetap dapat bekerja dengan kondisi angin yang maksimal.

”Biasanya kan kalau malam anginnya lebih banyak, sehingga ikan dapat terus mendapat supply oksigen dengan baik. Dengan cukupnya ketersediaan oksigen, akan memicu ikan terus bergerak. Hal itu memberi dampak positif terhadap pertumbuhan ikan yang hidup di tambak,” imbuh Jauhari.

Alat tersebut sudah diterapkan kurang lebih selama dua bulan di daerah Keputih, Surabaya. Meskipun sudah dapat dijalankan, mereka berupaya terus melakukan riset untuk penyempurnaan alat tersebut. ”Kami masih mengupayakan eco aerator ini bisa lebih ringan dan simpel,” tutupnya.(kampus.okezone.com)

Leave a Reply

Your email address will not be published.