Dua Srikandi SMAN 2 Bandung Masuk 10 Besar UN

oleh -1 views
SMAN 2 Bandung.(sman2bdg.sch.id)
Arrief Ramdhani
SMAN 2 Bandung.(sman2bdg.sch.id)
SMAN 2 Bandung.(sman2bdg.sch.id)

DUA Siswi Sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN) 2 Bandung, Jawa Barat, meraih nilai tertinggi kedua se-Indonesia. Dua Srikandi itu adalah Annisa Azalia Herwandani dan Ranisa Larasati,yang memperoleh nilai 10 untuk mata pelajaran Matematika.

Dengan predikat nilai tertinggi kedua bagi dua siswinya itu, SMAN 2 merasa sangat bangga. “Mereka rajin dalam belajar, jadi tidak instan untuk meraih nilai itu,” ungkap Sundari, kepala SMA Negeri 2 Bandung, ketka ditemui di ruang kerjanya, Selasa (20/5).

Annisa dan Larasati dianggapnya sebagai contoh yang harus ditiru oleh adik kelasnya. Bahwa untuk mendapatkan nilai yang terbaik harus dipersiapkan sedini mungkin.

Bahkan, menurut Sundari, sejak kelas X Annisa selalu masuk rangking di tiga besar. Sehingga tidak heran jika di Ujian Nasional (UN) dia meraih peringkat kedua dari sepuluh besar dengan nilai 57,65.

Dengan rincian Matematika memperoleh angka sempurna 10, Bahasa Indonesia mendapatkan 9,60, dan 8,80 untuk pelajaran Bahasa Inggris. Sedangkan mata pelajaran lainnya seperti Biologi, Fisika, dan Kimia mendapatkan nilai 9,75.

Sementara Ranisa Larasati, memperoleh total nilai 57,05, sehingga dia berhak berada di peringkat ke-10. Nilai Matematika dan Fisika Larasati masing-masing 10, untuk Bahasa Indonesia 9,20 Bahasa Inggris 8,60, Biologi 9,50, dan Kimia 9,75. Untuk prestasi di kelas Larasati kerap mendapatkan rangking pertama.

Namun kepala sekolah  berpesan agar murid-muridnya tidak terlena dengan nilai tinggi. Sebab, jenjang pendidikan mereka masih panjang. Sundari juga berharap muridnya tetap menjaga semangat belajar hingga di bangku kuliah nanti.

Annisa sendiri mengaku tidak menduga nilai ujiannya mampu meraih 10 besar. Sebenarnyadia tidak memikirkan peringkat tertinggi, melainkan hanya fokus belajar, seperti mempersiapkan diri dengan banyak belajar dan berlatih saat menjelang ujian.

Di samping itu dia kerap mengikuti tes Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN). “Saya suka berdiskusi menjawab soal-soal yang sulit dengan guru, maupun teman,” kata Annisa.

Begitu juga dengan Larasati,  mengaku tidak menduga sama sekali dirinya masuk 10 besar.  Setelah mendapatkan nilai tertinggi, dia merasa semakin termotivasi untuk belajar lebih giat lagi.

Menurutnya nilai tertinggi yang dia dapatkan merupakan hasil kerja kerasnya dalam belajar. “Selain itu juga berkat ilmu yang diajarkan oleh guru, serta doa orang tua,” terang Larasati.(republika.co.id)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.