Dijadikan Gudang, Salah Satu Persoalan Perpustakaan

oleh -3 views
Ilustrasi

Sebelum hadirnya teknologi digital, perpustakaan mempunyai peran yang sangat penting untuk mencari informasi. Termasuk di kala pelajar dan mahasiswa memerlukan bahan-bahan dalam menyusun makalah, tugas-tugas di sekolah dan kuliah, atau untuk menghabiskan waktu membaca.

Sementara, di era modern sekarang ini perpustakaan bersaing dengan media digital, di mana hanya dengan mengetikan kata kunci di internet informasi apa saja dapat dicari dengan mudah. “Oleh karena itu perpustakaan dituntut untuk bisa mengembangkan inovasi sebagai tempat untuk mencari informasi dan berbagai rujukan yang mengikuti perkembangan zaman,” ujar Direktur Sekolah Menengah Pertama, Direktorat Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Menengah, Kemendikbudristek, Mulyatsah, dalam satu kesempatan.

PERKEMBANGAN VIRUS CORONA

Berita Selengkapnya

Mulyatsah mengatakan, perpustakaan merupakan unsur yang sangat penting dalam Gerakan Literasi Sekolah. Perpustakaan, kata dia, sebagai ujung tombak budaya literasi sebagai tempat bahan bacaan bagi peserta, guru, anak didik, dan rangkap pendidik sekolah lainnya.

“Gerakan literasi ini mempunyai peran yang vital untuk menjadikan sumber daya yang unggul untuk belajar sepanjang hayat dengan secara global dan nilai-nilai Pancasila atau profil Pancasila,” ujarnya.

Mulyatsah berharap, satuan pendidikan sebagai tempat belajar hendaknya memiliki ruang perpustakaan dengan berbagai macam jenis buku yang bisa dibaca dan menarik untuk anak-anak. Bedasarkan data pokok pendidikan, jumlah perpustakaan sekolah pada tahun 2020 adalah 187.461 di Indonesia. Sementara, sekolah berjumlah 436.722.

“Data ini menunjukkan masih ada sekolah yang belum memiliki ruangan perpustakaan. Ini memang sangat disayangkan, sehingga kami membuka kesempatan bagi berbagai pihak, teman-teman pemerintah daerah, para penyelenggara pendidikan, ayo kita cukupkan perpustakaan dan kita dukung minat baca anak didik kita,” harapnya.

Permasalahan lain, lanjut dia, bukan hanya pada jumlah ruang perpustakaan yang tersedia, namun pada fungsi perpustakaan yang belum optimal. Banyak ditemui perpustakaan sekolah hanya sebagai gudang penyimpanan tanpa tersentuh peserta didik, bahkan guru-guru enggan melangkah ke perpustakaan.

Perpustakaan belum berfungsi sebagaimana mestinya disebabkan berbagai faktor, seperti jam istirahat yang terbatas 15 menit, koleksi yang tidak menarik, dan tidak ada motivasi bagi peserta didik untuk datang ke perpustakaan.

Menyikapi hal tersebut, Mulyatsyah mengajak perangkat sekolah untuk menjalankan beberapa strategi, seperti menjadwalkan waktu membaca ke perpustakaan bersama-sama dengan durasi 1 jam setiap minggu, kemudian menambah koleksi perpustakaan yang bisa menarik minat baca anak-anak.

“Ini adalah bagian dari sebuah gerakan literasi membaca. Dan yang tidak boleh dilupakan adalah bagaimana mendesain ruang perpustakaan sekolah tersebut menjadi ruangan yang nyaman oleh peserta didik untuk membaca,” katanya.