Didik Anak Berkebutuhan Khusus menjadi Mandiri

oleh -51 views
Ilustrasi
Arrief Ramdhani
Siswa ABK SDN Cibabat Mandiri 2 Cimahi dididik untuk menjadi mandiri.
Siswa ABK SDN Cibabat Mandiri 2 Cimahi dididik untuk menjadi mandiri.

SDN Cibabat Mandiri 2 Cimahi, Jawa Barat merupakan salah satu sekolah mitra USAID PRIORITAS di Kota Cimahi, Jawa Barat yang ditunjuk sebagai sekolah penyelenggara pendidikan inklusif sejak tahun 2013. Berdasarkan Surat Keputusan No. 421.2/0764/Disdikpora Kota Cimahi dan No. 819/2/229 – Set Disdik Prov Jabar, sekolah berhak memperoleh bantuan profesional dalam menyelenggarakan pendidikan inklusid dari pemerintah kabupaten/kota. Hal itu sesuai Permendiknas RI Nomor 70 Tahun 2009 pasal 11 ayat 1 tentang penyelenggaran pendidikan inklusif. Bantuan yang sudah diperoleh antara lain adanya guru pembimbing khusus (GPK) dan pelatihan tentang pendidikan inklusif bagi kepala sekolah dan semua guru.

Kepala sekolah dan guru memahami betul yang harus dilakukan agar anak berkebutuhan khusus (ABK) dapat mengembangkan bakat dan kemampuannya. Ada 3 target utama untuk ABK yang disepakati oleh orang tua dan sekolah atau GPK yaitu (1) ABK bisa mandiri/mengurus dirinya sendiri dan tidak  tergantung pada orang lain, (2) ABK bisa bersosialisasi dengan masyarakat, dan (3) ABK paham nilai mata uang/penanaman nilai mata uang.

Proses belajar ABK dilakukan bersama dengan peserta didik regular (non ABK) dengan bantuan GPK. Sekolah juga menyiapkan program khusus untuk ABK yang disesuaikan dengan kebutuhan anak. Beberapa kegiatan yang dilakukan oleh GPK dan mendorong ABK menjadi mandiri adalah berupa terapi motorik halus dan penguatan akademik dengan mengulang mata pelajaran yang belum dipahami oleh ABK. Sekolah membangun komunikasi yang intensif dengan orang tua ABK sehingga terbangun kerjasama yang baik.

GPK juga menggunakan media sosial facebook untuk berkomunikasi dengan orang tua ABK sehingga perkembangan dan permasalahan ABK di sekolah maupun di rumah dapat saling diketahui untuk mencari solusi yang terbaik bagi ABK.

Ibu Nur Syahamiati guru SDN Cibabat Mandiri 2 yang sehari-hari mendampingi ABK, mengatakan dalam mendidik anak-anak berkebutuhan khusus harus dengan hati. “Saya senang bisa mendapat kesempatan membimbing ABK di sekolah ini. Guru kelas memahami betul bagaimana mengajar ABK di sekolah inklusif sehingga saya bisa bekerjasama dengan guru kelas untuk membimbing ABK dalam mencapai kemandirian,” urainya.

Pada saat jam istirahat, ABK tidak canggung bermain bersama teman-teman sebayanya yang non ABK. Misalnya Najwa, gadis cilik yang manis penyandang tuna rungu itu, menggunakan alat dengar untuk membantunya berkomunikasi dengan teman-temannya. “Saya senang sekolah di sini. Teman-teman dan bu guru baik, mau membantu kalau saya tidak bisa,” katanya saat sedang bermain bersama teman-temannya.

Pendidikan karakter juga dapat lebih terbangun di sekolah penyelenggara pendidikan inklusif. Misalnya ketika guru mengajar mata pelajaran Agama tentang sikap tolong menolong dapat dipraktikkan langsung dalam aktivitas sehari-hari antara peserta didik ABK dan non ABK. Seperti yang dikatakan salah satu peserta didik non ABK, “Itu Erik, saya bantu dia kalau kursi rodanya nyangkut dan tidak bisa jalan,” katanya saat ditanya apakah mengenal temannya yang menggunakan kursi roda karena menderita cerebral palsy.(prioritaspendidikan.org)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.