Dalam Waktu Singkat, Siswa Kami Berubah Pembelajaran Aktif Mengubah Perilaku Siswa Menjadi Lebih Saintifik

oleh -2 views
Suasana pembelajaran yang semakin aktif, interaktif, dan menyenangkan.(prioritaspendidikan.com)
Arrief Ramdhani
Suasana pembelajaran yang semakin aktif, interaktif, dan menyenangkan.(prioritaspendidikan.com)
Suasana pembelajaran yang semakin aktif, interaktif, dan menyenangkan.(prioritaspendidikan.com)

PEMBELAJARAN kontekstual yang diterapkan di SMPN 16 Tangerang Selatan telah mengubah perilaku para siswanya. Kini para siswa ditengarai lebih berani bertanya, aktif berdiskusi, dan bisa menghargai pendapat lain. “Siswa kami sekarang merasakan sekolah adalah kebutuhan, bukan lagi kewajiban,” ujar Ibu Liana MMPd, guru IPA di sekolah tersebut.

SMPN 16 merupakan salah satu sekolah mitra USAID PRIORITAS di Provinsi Banten. Sekolah tersebut memiliki 1 orang fasilitator daerah, Drs Joko Budi Santosa MPd. Sejak dimulainya tahun ajaran baru akhir bulan Agustus 2014 lalu, Joko berusaha membimbing seluruh rekan guru di SMPN 16 menerapkan pembelajaran kontekstual di seluruh mata pelajaran yang diampu.

banner 728x90

Langkah pertama yang ditempuh Joko adalah memperkenalkan pembelajaran kontekstual (CTL) kepada rekan-rekan guru, dan menyamakan persepsi mengenai penerapannya. Berikutnya, memulai menata perabot kelas. “Kita mulai dengan yang mudah saja dulu. Menggeser tempat duduk siswa dari sebelumnya menghadap papan tulis, sekarang duduk berkelompok ‘kan sebenarnya mudah saja,” jelas Joko.

Posisi duduk berkelompok itu ternyata membawa perubahan yang besar. “Dalam beberapa hari, siswa jadi semakin berani bertanya,” cerita Joko takjub. Para siswa juga semakin berani mengeluarkan pendapat dan menghargai pendapat lain. Hasil pembelajaran siswa yang dikerjakan secara berkelompok pun dipajang di dinding. “Soalnya kami belum punya papan pajangan khusus kelas,” ujar Joko terkekeh. Pemajangan dan presentasi karya siswa melatih mereka berkomunikasi selain bisa berfungsi sebagai sumber belajar siswa.

“Pada awalnya kami di sekolah merasa penasaran, apa saja yang diperoleh Pak Joko di pelatihan USAID PRIORITAS. Pada awalnya beliau belum banyak memiliki waktu untuk melatih rekan-rekan guru di sekolah. Tapi begitu kami tahu dan mulai terapkan, perubahan mulai muncul,” ujar Liana, guru IPA. “Saya berusaha menggunakan berbagai bahan yang ada untuk dijadikan alat peraga. Memang ada beberapa alat peraga bantuan pemerintah, tapi ‘kan tidak lengkap. Buat saya, yang penting gurunya harus mau berusaha.”

Kebiasaan duduk berkelompok pun memberi pengaruh berbeda kepada siswa. “Dulu anak-anak kalau disuruh duduk berkelompok, susah. Mereka malas geser-geser bangku. Sekarang, karena duduknya sudah diatur berkelompok, mereka berganti kelompok pun senang-senang saja,” ujar Liana lebih jauh. “Mereka sekarang memiliki rasa ingin tahu yang tinggi, dan merasa belajar itu menyenangkan.”(prioritaspendidikan.org)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.