D. Dudu Abdul Rahman Pendiri Komunitas Pers Cilik Cisalak di Tasikmalaya

Friday 17 February 2017 , 8:23 AM
D. Dudu Abdul Rahman Pendiri Komunitas Pers Cilik Cisalak di Tasikmalaya(Asop Ahmad/Siap Belajar)

D. Dudu Abdul Rahman
Pendiri Komunitas Pers Cilik Cisalak di Tasikmalaya(Asop Ahmad/Siap Belajar)

TASIKMALAYA, SB – “Musik adalah salah satu alasan kenapa jantung saya terus berdenyut untuk membuat irama dalam hidup,” ujar D. Dudu Abdul Rahman (34), pendiri Komunitas Pers Cilik Cisalak (Rumpaka Percisa), di Bantarsari, Nagasari, Cipedes, Kota Tasikmalaya.

Itu adalah komunitas yang lebih memfokuskan pada pelatihan gratis dengan memberi ruang terhadap karya tulis, ide kreatif, dan apapun bentuk dari karya anak-anak melalui media online, elektronik, cetak, atau audiovisual. Puluhan karya telah diterbitkan oleh komunitas tersebut, seperti buku, komik strip, video diary, video clip, sound track, dan konser musik.

Berawal dari gitar oranye yang dimiliki kakaknya, Dudu mencoba bermain musik. Ketika itu ia masih duduk di kelas satu sekolah menengah pertama.  Andri pemuda yang sering nongkrong di depan warung dekat rumahnya, menjadi guru musik pertamanya. “Kamu pilih blues, rock, atau pop?” tanya Andri, saat itu, kepada Dudu. Pilihannya jatuh pada genre blues.

Dudu mulai intens berlatih main gitar. Awalnya, itu tidak mengganggu ritme belajarnya. Ia masih ingin menjadi salah satu siswa terbaik. Namun, saat duduk di bangku SMA, ia membuat penegasan.

“Karena saya tidak bisa lepas dengan musik, akhirnya saya berbicara pada orangtua, bahwa selama belajar di SMA saya tidak akan terlalu serius mengejar prestasi akademik. Saya akan mencari teman-teman pemusik dan membentuk grup band. Orangtua, terutama ibu, merelakan keputusan yang saya ambil,” tuturnya.

Selama berada di bangku SMA, ia lebih mengeksplorasi dirinya dengan dunia musik, membentuk grup musik di dalam dan luar sekolah. Mengikuti berbagai festival musik pelajar hingga ibu kota.

Salah satu pengalaman terbaiknya saat itu adalah menjuarai Festival Musik Pelajar dengan membawakan lagu sendiri, di Purwakarta. Padahal, saat mengikuti kegiatan itu ia hanya mempunyai uang seribu rupiah.

“Perjuangan tersebut diganjar piala dan uang pembinaan. Karena punya uang, saya pun beli tiket untuk pulang, bisa duduk di kursi dengan nyaman tidak diuber-uber petugas karcis di kereta api,” ujarnya terkekeh.

Usai menamatkan SMA, keinginannya untuk masuk perguruan tinggi musik tidak terealisasi, karena masalah biaya. Ia pun memilih mendirikan grup band dengan nama “Time’s Jhon” bersama teman-teman SMPnya dulu.

Berjalan setahun menggawangi “Time’s Jhon”, ia lantas masuk PGSD. Kuliah dan musik berjalan beriringan. Ia un mendirikan sebuah komunitas yang diberi nama Teacher Music Community (TMC).

Salah satu kesuksesannya yaitu menggelar teater “Opera Otak Kanan Anak Negeri” bersama Teater Cagur, Teater 28 Unsil, dan beberapa komunitas luar kampus. Selesai kuliah, pelabuhan terakhirnya adalah mengajar. Sekarang ia tercatat sebagai guru PNS di SD Negeri Perumnas Cisalak Kota Tasikmalaya.

Dalam berkarya, pria kelahiran 7 Juni 1983 itu menggunakan nama pena Vudu Abdul Rahman. Beberapa karyanya dimuat di berbagai antologi; Esai Pendidikan, Give Spirit For Indonesia, Sketsa Angin di Atas Pasir, Kumpul Guru Jadi Guru, Akar yang Merambat,  salah satu penulis cerita komik Shelter of the Sky (Slowork Publishing) 2016, pencipta lagu Album Nyawa Bunga Percisa Kids, 2015, menulis berita dan artikel di beberapa media cetak-online lokal, interlokal, nasional dan internasional.

Suami dari Priska Pramudita kini telah dikarunia tiga putra/i, yaitu Fiorenza Fahrasha Jilanzhiya (6,3 tahun), Khalifali Almeida Renolendrya (5,8 tahun), dan Grilian Lesavir Almalaya (7 bulan). (Asop Ahmad/Siap Belajar)

Comments are closed.