Ciptakan Aplikasi Pembatas BBM, Mahasiswa ITB Sabet Juara II OSN Pertamina

Saturday 29 March 2014 , 4:55 AM
Ciptakan Aplikasi Pembatas BBM, Mahasiswa ITB Sabet Juara II OSN Pertamina

Ciptakan Aplikasi Pembatas BBM, Mahasiswa ITB Sabet Juara II OSN Pertamina.(itb.ac.id)

KENAIKAN harga Bahan Bakar Minyak (BBM) tahun lalu rupanya tidak hanya mengusik pikiran dan pemerintah saja selaku pengambil kebijakan. Subsidi BBM yang cukup mencederai APBN tersebut menjadi latar belakang utama kenaikan harga BBM saat itu. Menanggapi hal tersebut, ketiga mahasiswa ITB yaitu Hanif Lyonnais (Teknik Informatika 2010), Satria Ady Pradana (Teknik Informatika 2010) , dan Irfan Kamil (Teknik Informatika 2010) yang bergabung dalam tim Wikara turut menyumbangkan inovasi mereka dengan menciptakan sebuah aplikasi pembatas BBM bersubsidi. Karya Tim Wikara ini bernama ‘Eazyfuel’, sebuah aplikasi perangkat lunak pembantu transaksi pembelian dan pengelolaan BBM bersubsidi. Dengan karya Eazyfuel ini, Tim Wikara berhasil meraih Juara II Kompetisi OSN Pertamina 2013 untuk kategori  proyek sains.

Eazyfuel yang menjadi buah karya tim Wikara ini pada penerapannya menggunakan smartcard yang digunakan oleh pembeli BBM. Pada penerapannya, masing-masing orang akan memiliki kartu yang digunakan untuk membeli BBM di SPBU. Kartu tersebut terbagi menjadi beberapa kelompok, dibedakan tergantung apakah si pemilik kartu merupakan kalangan yang membutuhkan BBM bersubsidi atau tidak. Misalnya, kalangan masyarakat berpendapatan rendah tentunya memiliki kuota BBM bersubsidi yang lebih banyak dibanding kalangan masyarakat berpendapatan menengah dan atas. “Jika nanti kuota kartu sudah habis, maka si pemilik kartu harus membeli BBM non subsidi,” jelas Irfan. Dengan menggunakan teknologi ‘Near Field Communication’, proses pengecekan kuota yang dimiliki oleh masing-masing orang akan lebih mudah. Selain itu, pemerintah berpeluang menghemat trilyunan rupiah dengan diterapkannya teknologi ini.

Untuk mempersiapkan lomba ini, Tim Wikara menghabiskan sekitar enam bulan persiapan mulai dari Juli 2013. Dalam rentang waktu enam bulan persiapan tersebut, Hanif dan kawan-kawan memperbaiki prototype demi prototype sebelum akhirnya berhasil lolos menuju babak final pada Desember 2013.  Selain itu, Tim Wikara juga turut mencari contoh-contoh inovasi sebagai bahan perbandingan yang terdapat di negara lain. “Memang sampai saat ini tidak banyak negara maju yang mempunyai kebijakan BBM bersubsidi seperti Indonesia. Dapat dikatakan model yang kami usulkan merupakan ide baru dari hasil diskusi tim. Harapannya aplikasi ini mampu memberikan kontribusi positif terhadap kebijakan pemerintah, tidak lupa kami juga melakukan eksplorasi keilmuan yang cukup saat pengembangan aplikasi ini,” ujar Hanif

Ketertarikan Hanif, Irfan, dan Satria terkait bidang informatika memang sudah sejak lama, Irfan bahkan mengaku sudah tertarik dengan informatika sejak duduk di bangku SMP. Meskipun begitu, ketiganya memiliki minat spesifik yang berbeda satu sama lain. Hanif lebih tertarik kepada integrasi sistem, Irfan dengan bidang teknologi web, dan Satria dengan bidang keamanan jaringan atau IT security. “Namun dengan adanya perbedaan itulah, pembagian tugas terasa lebih mudah dan semua orang memiliki perannya masing-masing,” terang Satria. Selain sudah lama tertarik bidang informatika, Hanif dan kawan-kawan memang sudah sejak lama menimba pengalaman dengan mengikuti berbagai kompetisi. Hanif dan Irfan sebelumnya berhasil menyabet juara II pada kompetisi LEN Aplikasi Smartcard Harteknas 2013, sedangkan Satria juga turut aktif dalam kompetisi GEMASTIK 2013.

Ditanya mengenai pengalaman menarik selama mengikuti kompetisi ini, Satria menjawab bahwa salah satu pengalaman yang tidak terlupakan adalah kesempatan berkunjung ke Depo BBM Pertamina yang berada di Plumpang. Depo Plumpang memiliki peran penting dalam pendistribusian BBM terutama untuk daerah Jabodetabek, daerah dengan pusat perputaran bahan bakar terbesar di Indonesia. “Depo Plumpang yang juga merupakan aset nasional tersebut tidak memperbolehkan sembarang orang untuk memasukinya, hal itu merupakan pengalaman yang paling berkesan bagi kami,” ujar Satria.

Selain itu, ditanya mengenai prospek pengembangan Eazyfuel ini Hanif menjawab bahwa harapan mereka semoga rekomendasi aplikasi ini dapat tersampaikan pada pihak pemerintah dan dikembangkan. “Selama mengikuti kompetisi ini, kami menemukan bahwa sebenarnya banyak inovasi-inovasi dari mahasiswa yang mampu memecahkan atau setidaknya memberi pandangan baru untuk masalah-masalah yang ada di negeri ini, tetapi sayangnya tidak jarang inovasi-inovasi tersebut berakhir hanya sebagai sebuah rencana karena kurang ditindaklanjuti, semoga perhatian pemerintah akan program-program seperti ini dapat ditingkatkan,” ujar Hanif.

Selain memiliki kesibukan menyusun tugas akhir, Hanif dan kawan pun saat ini sedang merintis start-up IT bussiness,   rumah software ‘Velocite Technology’, serta menggagas sistem portal pencerdasan pemilihan umum mendatang untuk Kota Bandung. Pengembangan karya dan kolaborasi dengan pemerintah merupakan target terdekat tim Wikara. “Memiliki kesempatan untuk menjadi mahasiswa di ITB merupakan anugerah bagi diri kita sendiri, namun ketika kita mampu berkarya maka hal tersebut menjadi anugerah bagi orang lain,” pesan Satria menutup wawancara.(itb.ac.id)

Leave a Reply

Your email address will not be published.