Cerita Sulitnya Ajak Guru Aktif Menulis

oleh -3 views
Ilustrasi
Arrief Ramdhani
Ilustrasi
Ilustrasi

KEPALA Perpustakaan SMA Negeri 36 Jakarta, Olo Tahe Sinaga mengungkapkan pengalaman mengajak teman gurunya untuk aktif menulis. Ia mengaku merasa kesulitan untuk mengajak temannya dalam kegiatan ini.
Pria yang biasa dipanggil Ote ini menceritakan saat dirinya memiliki program membuat buku dari hasil tulisan para guru di sekolahnya.

“Saya ingin terbitkan tulisan teman yang jumlahnya hampir 60 orang, tapi ternyata yang nulis cuman lima atau enam orang,” kata Olo kepada wartawan usai acara “Gerakan 1000 Guru Menulis” di Gedung F, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), Sabtu (16/4). Karena kondisi tersebut, dirinya pun gagal menerbitkan buku karya para guru tersebut.

banner 728x90

Atas kondisi tersebut, Ote menilai kurangnya minat baca menjadi faktor ‘mandeknya’ kegiatan menulis pada guru. Hal ini karena kemampuan membaca berkaitan erat dengan menulis.

Menurut Ote, terdapat perbedaan yang siginifikan antara orang yang suka membaca dan menulis dengan yang tidak. Cara pemikiran, bertutur dan bersikap sangat jelas berbeda. Orang yang memiliki kemampuan literasi lebih nampak berbobot dari isi pembicraan yang diungkapkannya. Karena itu, Guru Bahasa Indonesia ini menegaskan pentingnya kegiatan membaca dan menulis bagi siapapun terutama guru dan siswa.

Untuk bisa meningkatkan minat literasi anak, Ote menyatakan, selalu menekankan siswanya untuk membaca buku minimal 15 menit per hari. Selain itu, dia juga sempat mengadakan lomba menulis bagi para siswanya. Dia menekankan para siswanya untuk ikut karena dirinya akan memberikan nilai plus pada mata pelajaran Bahasa Indonesia yang diampunya.

Sementara pada aspek pengembangan minat literasi pada guru, Ote memandang, kegiatan seperti workshop memang harus diperluas dan diperbanyak. “Pemerintah memang harus memfasilitasi kegiatan seperti ini jika gerakan literasinya benar-benar ingin tercapai,” ujar Ote.

Meski terdapat beberapa kegiatan seperti itu, Ote mengatakan, kesadaran guru untuk ikut berlatih dan meningkatkan kemampuan literasinya masih belum terlalu baik. “Contohnya kegiatan Gerakan 1000 Guru Menulis ini, sebenarnya banyak guru yang sudah mengajak temannya, tapi banyak yang tidak bisa dengan berbagai alasan,” kata dia.

Menurut dia, hal ini nampaknya terjadi karena kurangnya rasa percaya diri para guru pada kemampuan literasinya. Padahal, dia melanjutkan, mencoba dan berlatih meningkatkan literasi lebih baik dibandingkan tidak melakukan sama sekali. Tidak menjadi masalah besar jika merasa kemampuan menulisnya masih belum terlalu baik.( republika.co.id)