Cara Asyik Belajar Sejarah

oleh -2 views
Museum Sejarah Jakarta
Arrief Ramdhani
Museum Sejarah Jakarta
Museum Sejarah Jakarta

TERINSPIRAI dari sebuah buku tentang sejarah Kota Bandung, para penggiat komunitas ini pun tergerak melakukan eksplorasi di lapangan.
Dalam benak banyak orang, belajar sejarah Kota Bandung cukup dilakukan dengan membaca dan mengingat nama tempat terjadinya suatu peristiwa penting (berupa lapangan, gedung, atau penanda seperti tugu), lalu kapan, dan siapa saja tokoh yang terlibat.

Teknik belajar dengan cara mengapal ini sudah berlaku umum. Digunakan selama berpuluh tahun, bahkan masih tetap diterapkan hingga kini. Salah satu kelemahan cara belajar sejarah seperti ini, membosankan. Sama sekali tidak ada tantangan menarik yang harus kita selesaikan bersama-sama.

banner 728x90

Sekumpulan anak muda kreatif di Komunitas Aleut ini mencoba mengenalkan kepada masyarakat, cara belajar sejarah dan budaya Kota Bandung dengan datang langsung ke tempat-tempat bersejarah. Teknik ini, ternyata lebih diterima masyarakat bahkan mampu menyedot animo pelajar, mahasiswa, bahkan kalangan yang lebih luas.

Komunitas Aleut yang lahir pada 2006 merupakan komunitas nirlaba beranggotakan anak-anak muda yang mengekspresikan rasa cinta kepada kota tempat tinggalnya, dengan cara-cara menyenangkan, yaitu lewat apresiasi sejarah dan wisata.

Jika diartikan kata aleut (bahasa Sunda) berarti berjalan kaki beriringan. Cara ini juga yang dilakukan para anggota maupun simpatisan Komunitas Aleut dari dalam maupun luar kota, untuk mengenal sejarah Kota Bandung.

Seorang penggiat Komunitas Aleut, Hevi Lolita menjelaskan, awal mula terbentuknya komunitas ini berasal dari bincang santai sekumpulan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Bandung. Saat itu, tercetus keinginan menggali sejarah Kota Bandung melalui pendekatan wisata edukatif.

Saat itu mereka sedang mengkaji isi buku Semerbak Bunga di Bandung’ yang ditulis Harianto Kunto, penulis senior yang dijuluki Kuncen Kota Bandung. Mereka pun mulai mendatangi tempat-tempat tersebut untuk mengecek keberadaannya.

Setiap akhir pekan kita jalan beriringan mendatangi tempat-tempat itu. Ternyata, dengan metode seperti itu, ilmu dan wawasan yang didapat jauh lebih banyak ketimbang hanya duduk manis dan belajar teori saja, ujar Hevi saat ditemui INILAH, Selasa (10/3).

Tak ada syarat khusus untuk menjadi anggota Komunitas Aleut, asalkan mereka bisa membaca, memiliki kemampuan belajar, suka jalan-jalan, dan berminat belajar sejarah.

Komunitas ini sangat terbuka bagi siapapun yang ingin bergabung. Kita tidak akan mempersulit keinginan orang untuk belajar. Oleh karena itu semua kegiatan Komunitas Aleut gratis, kecuali ongkos, SMS, dan makan pribadi, terangnya.

Struktur dalam komunitas ini pun terbuka dan disesuaikan dengan kebutuhan temporer. Komunitas Aleut dikelola seorang koordinator dibantu beberapa pegiat aktif yang berperan sebagai pengurus harian.

Dengan metode Datang, Lihat dan Belajar, komunitas ini banyak diminati masyarakat luas. Mereka bergabung bukan hanya sekedar berwisata, tapi benar-benar ingin tahu keberadaan tempat bersejarah tersebut secara nyata.

Kegiatan kami setiap minggu adalah mengapresiasi sejarah dengan cara Datang, Lihat, dan Belajar, yaitu dengan ngaleut atau mengunjungi objek bangunan atau tempat bersejarah. Ada juga kegiatan nonton bareng film-film bertema sejarah, makan-makan sambil ngobrol, hingga mengapresiasi musik, pungkasnya.(inilahkoran.com)