Budi Pekerti Jadi Dasar Kelulusan

oleh -15 views
Ilustrasi
Arrief Ramdhani
Ilustrasi
Ilustrasi

GAGASAN BupatiDedi Mulyadi terkait pendidikan budi pekerti tidak sebatas wacana. Bak gayung bersambut, salahsatu sekolah dasar (SD), yakni SDN Satu Atap Terpadu 12 Ciseureuh Kahuripan Pajajaran sudah sejak satu tahun belakangan ini memberlakukan kurikulum budi pekerti.

SD terpadu Kahuripan Pajajaran, telah melepas 67 peserta didik untuk melanjutkan sekolah ke jenjang berikutnya (SMA/MA/SMK) dengan salah satu persyaratan kelulusan adalah budi pekerti.

Kurikulum budi pekerti yang diterapkan, didasarkan pada lima aspek penilaian, yakni siswa paling motekar (kreatif-red), ngarumat kebersihan (paling memperhatikan aspek kebersihan), siswa yang memiliki kepribadian budi pekerti baik, siswa  paling rajin dan siswa yang kewes gandes (rapi dalam berpakaian).

Penilaian budi pekerti yang diterapkan di sekolah terpadu Kahuripan Pajajaran, masuk pada penilaian akhir siswa yang menentukan lulus atau tidak lulus.

Bahkan Bupati memberikan penghargaan kepada para peserta didik yang mendapat ranking penilaian aspek budi pekerti tersebut.

Kepala SDN Satu Atap Terpadu 12 Ciseureuh Kahuripan Pajajaran, Subaedi Kusmana mengatakan, aspek penilaian budi pekerti yang diterapkan memiliki bobot lebih dari penilaian mata pelajaran, karena menerapkan nilai-nilai kearifan lokal budaya Sunda yang aplikatif dalam kehidupan sehari-hari,

“Penilaian budi pekerti melibatkan guru, guru kelas, dan guru mata pelajaran. Mereka tidak hanya menilai kecerdasan siswa pada mata pelajarannya tapi juga harus bisa menilai kepribadian dan budi pekerti,” jelas Subaedi.

Ia mengatakan, dalam proses belajar mengajar para peserta didik SDN Satu Atap terpadu 12 Kahuripan Pajajaran, tidak hanya terpaku di dalam ruang kelas. Tetapi, pembelajaran sering juga dilakukan di alam terbuka,“Sekolah kami letaknya berdekatan dengan areal persawahan. Kami butuh ini untuk mengenalkan alam ke anak-anak, cara bercocoktanam, berkebun, dan beternak. Tak jarang juga anak-anak menggembala hewan dan mandi lumpur sebagai bagian memahami alam,” tandasnya.

Bupati PurwakartaDedi Mulyadi menegaskan komitmennya untuk terus mengembangkan pendidikan berkarakter, pendidikan yang mengedepankan rasa, danbudi pekerti. Menurutnya, sekolah bukan hanya mencetak manusia pintar, tapi lebih penting adalah sejauhmana manusia itu memahami keberadaannya ditengah-tengah masyarakat.

“Percuma pintar, jika suka berkelahi, atautawuran. Kita butuh generasi yang unggul yang bisa memahami seluruh aspek kehidupan ini. Maka pendidikan yang membentuk karakter dan budi pekerti sangat diperlukan,” jelas Dedi.

Ditambahkannya, salahsatu fokus pendidikan berkarakter yang dilakukan saat ini adalah membangun peradaban di lingkungan sekolah. Misalnya lingkungan sekolah bebas dari pedagang jajanan yang kadar gizinya tidak terkontrol. Siswa harus membawa bekal makanan dari rumah yang dibuatkan orangtuanya. Selain itu, ruang kelas didesain disesuaikan dengan kultur lingkungannya, seperti membangun kelas dengan standar hotel, “Setiap ruang kelas harus memiliki toilet sendiri, wastafel, lemari tempat menyimpan tas, dilengkapi dengan teknologi audiovisual untuk mendukung proses pembelajaran,” tambahnya.(Siapbelajar Purwakarta)***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.