Boleh UN Asal 8 Standarnya Terpenuhi

oleh -3 views
Mendikbud
Arrief Ramdhani
kemdiknas.go.id
kemdiknas.go.id

MOMEN Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) yang jatuh setiap 2 Mei kerap dimanfaatkan para pemerhati pendidikan untuk menyuarakan kepedulian mereka terhadap dunia pendidikan. Tidak terkecuali Asosiasi Dosen Indonesia (ADI).
Oleh karena itu, ADI pun menggelar diskusi terkait masalah Ujian Nasional (UN) beberapa waktu lalu dan kurikulum. Selain itu, mereka juga membahas sertifikasi guru dan dosen yang tidak mencapai target dan sasaran serta keseriusan Indonesia dalam menghadapi era pakta perdagangan tunggal ASEAN 2015.

Rektor Universitas Muhammdiyah Prof. Dr. Hamka (Uhamka) Suyatno mengungkap, karut-marut pelaksanaan UN 2013 hendaknya diakui dengan besar hati oleh pihak Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud). Bukannya melimpahkan kesalahan kepada pihak lain.

“Pemerintah bertanggungjawab dari berbagai aspek, terutama aspek manajemen dan pelaksanaan. Jangan dilimpahkan kepada yang kecil (percetakan),” kata Suyatno, di Kampus Uhamka, Pasar Rebo, Jakarta Timur, Kamis (2/5/2013).

Tanggung jawab tersebut, lanjutnya, menyangkut komitmen moral dan integritas. Maka, pihak. ADI akan menunggu hasil investigasi yang telah dilakukan Kemendikbud. “Kita saling menghormati dan menunggu hasil investigasi. Jelas kami minta tanggung jawab Kemendikbud atas persoalan itu,” ujar Sekretaris Jenderal ADI itu.

Menurut Suyanto, UN boleh dilakukan asal pemerintah memenuhi delapan persyaratan pelaksanaan UN sesuai PP nomor 19 tahun 2005. Kedelapan standar tersebut adalah standar isi, standar proses, standar kompetensi lulusan, standar pendidik dan tenaga kependidikan, standar sarana dan prasarana, standar pengelolaan, standar pembiayaan, dan standar penilaian pendidikan.

“Pendidikan itu proses bukan barang mati. Ada kan anak pintar tapi saat UN tidak lulus. Beruntung sekarang UN sudah tidak lagi penentu kelulusan, ada ujian sekolah. Selain itu juga memperhitungkan penilaian akhlak. Tapi itu akan efektif bila dilakukan guru dengan menggunakan portofolio yang mencatat perilaku sang anak dari awal itu masuk hingga lulus, seperti catatan medis dokter,” imbuh Suyatno.(kampus.okezone.com)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.