Berkebutuhan Khusus, 2 Pelajar Ini Terbang ke AS

oleh -3 views
Bendera Amerika
Arrief Ramdhani
Bendera Amerika
Bendera Amerika

MENDAPAT kesempatan untuk memperkaya pengalaman baik secara akademis maupun budaya di negara tetangga merupakan manfaat yang dirasakan para peserta program pertukaran pelajar. Salah satunya adalah para peserta program Indonesia-US Youth Leadership Exchange (IULX).
Dua peserta IULX 2013 berkebutuhan khusus, yakni Syifa Fauziah dan Ehal Lestari pun berbagi pengalaman selama tiga minggu tinggal di Negeri Paman Sam itu. Keduanya mengaku, program tersebut mengajarkan banyak hal, baik dari sisi akademis, soft skill berupa kepemimpinan, maupun budaya.

Syifa menjelaskan, IULX merupakan program pertukaran pelajar yang berkonsentrasi dengan tema lingkungan dan kepemimpinan.

“Di sana, kami mengunjungi tiga kota, yaitu San Fransisco, Washington DC, dan Virginia. Di San Fransisco kami belajar lingkungan, di Washington DC belajar tentang kepemimpinan, dan Virginia kami tinggal dengan house family,” ungkap Syifa ketika berbincang dengan Okezone, belum lama ini.

Pelajar kelas XI MA Palak Bogor itu menyebut, program pertukaran yang dilaluinya bukan sekadar jalan-jalan. Sebab, lanjutnya, para peserta memiliki punya proyek tentang lingkungan yang harus dilaksanakan.

“Per kelompok tiap sekolah punya program berbeda. Pertama, kami harus presentasi mengenai proyek tersebut dan kemudian mengajukan proposal untuk pengajuan sponsorship. Tapi kami juga ditunjukkan dan diberikan tip untuk jadi pemimpin yang baik,” paparnya.

Sementara itu, Eha Lestari menambahkan, proyek yang diajukannya dalam program tersebut adalah sebuah sensory garden yang diperuntukkan bagi para tuna netra. Kurangnya fasilitas pendukung untuk tuna netra dalam mengenal kekayaan botani di Indonesia menjadi alasan utama Tari -begitu dia biasa disapa- membuat proyek tersebut.

“Karena saya tuna netra, saya ingin membuat sesuatu yang baru di komunitas saya, khususnya di sekolah. Karena orang tuna netra kurang mengenal pepohonan, kurang banyak tahu tentang jenis-jenis, fungsi, dan bentuk tanaman,” urai Tari.

Pelajar SLBNA Padjadjaran, Bandung itu menjelaskan, sensory garden menyajikan beragam pepohonan dengan nama, ciri, bau, asal, dan kegunaan tanaman tersebut dalam huruf braile. Dengan demikian, para tuna netra dapat mengenal dan membedakan tumbuhan satu dengan lainnya.(kampus.okezone.com)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.