Beri Acungan Jempol pada Pengajar SM3T

oleh -1 views
Ilustrasi (kemdikbud.go.id)
Arrief Ramdhani
kemdikbud.go.id
kemdikbud.go.id

BANYAK kisah keteladanan pengajar sarjana mendidik di daerah terdepan, terluar, dan tertinggal (SM3T), yang diekspos oleh media massa. Dari kisah itu, kita menjadi tahu, bahkan paham, betapa heroik mereka dalam mengemban amanat sebagai guru di daerah 3T. Bukan sekadar mengajar di depan kelas sebagaimana umumnya guru di perkotaan di mana para siswa sudah tertib belajar. Mereka bahkan menggerakkan masyarakat hingga memahami betul betapa penting peran pendidikan untuk kehidupannya.

Sekadar menyebut contoh pengajar SM3T yang kisahnya membuat decak kagum adalah Abdel Muhaimin dan Ramli Sihombing. Mereka bertugas di Provinsi Papua. Abdel di pedalaman Kabupaten Teluk Bintuni, sedangkan Ramli di Kabupaten Lanny Jaya.

Abdel bercerita, semula masyarakat di tempatnya bertugas beranggapan bahwa sekolah tidak penting.  Akibatnya, sekolah menjadi sepi dan buta aksara merebak di kalangan anak-anak dan orang dewasa. Dengan pendekatan secara terus menerus, akhirnya para orangtua ikut mendorong putra-putrinya bersekolah. Semula, ketika ia datang, hanya ada 20 siswa. Tujuh bulan kemudian, siswanya bertambah menjadi 110 anak.

Cerita yang kurang lebih sama juga disampaikan oleh Ramli, bahwa pertama kali menginjakkan kaki di lokasi penugasan, ia mendapati 70 persen penduduknya buta aksara. Ia kemudian melakukan pembelajaran intensif bagi semua siswanya. Hasilnya, kini anak-anak di sekolah tersebut tidak hanya mampu membaca, tetapi juga sudah mahir menyanyikan lagu berbahasa Melayu,  Jawa, bahkan Riau.

Fakta yang dikemukakan oleh Abdel dan Ramli itu menunjukkan, alangkah berperan pengajar SM3T bagi dunia pendidikan Indonesia, khususnya di daerah 3T. Hal itu juga sekaligus membuka mata kita, bahwa pendidikan sebenarnya belum benar-benar menyentuh daerah tersebut. Terbukti masih banyak penduduk yang buta aksara, sebelum kedatangan pengajar SM3T tersebut. Maka, kehadiran mereka sangat dibutuhkan di wilayah paling ujung dan dalam di seluruh wilayah Nusantara. Maka, sangat pantas jika pemerintah memberi apresiasi kepada mereka, walau pengabdian mereka di daerah tersebut hanya bersifat sementara. Mereka diproyeksikan hanya menetap sekitar 10 bulan. Namun, walau hanya “sebentar”, manfaatnya sungguh luar biasa bagi kemajuan pendidikan di daerah 3T.

Pemerintah, seperti disampaikan Mendikbud Mohammad Nuh di SD dan SMP Satu Atap (Satap) Ninjemor, Papua Barat, Kamis (8/5), berniat memberi apresiasi bagi pengajar SM3T yang telah menyelesaikan tugasnya. Mereka akan mendapatkan pendidikan profesi guru (PPG), sehingga kelak dapat menjadi guru profesional. Berkaitan dengan hal itu, Mendikbud telah menjalin komunikasi dengan Menpan dan RB guna memrioritaskan SM3T dan mengangkatnya menjadi CPNS melalui jalur tes. Diharapkan, alumni SM3T dapat menjadi guru tetap di daerah 3T.

Pengangkatan mereka menjadi PNS dipastikan akan menambah semangat alumni maupun pengajar baru SM3T yang mencapai sekitar 3.000 orang setiap tahun. Setiap sekolah yang ditinggal oleh pengajar SM3T akan cepat diisi oleh pengajar baru, sehingga proses pembelajaran di daerah 3T dapat berjalan berkesinambungan.  Proses pembelajaran akan lebih baik jika terdapat guru tetap seperti yang diharapkan oleh pemerintah.

Menyadari peran pengajar SM3T sedemikian penting bagi pemerataan layanan pendidikan, ada baiknya kita acungi jempol kepada mereka. Apresiasi, apapun bentuknya, sangat berguna untuk memompa semangat juang para  pengajar SM3T. Selamat berjuang.(kemdikbud.go.id)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.