Bedol-Gugus Lecut Profesionalisme Guru secara Menyeluruh

oleh -4 views
Serius lakukan analisis data agar PKB dijalankan sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan daerah (3/11).(usaid prioritas)
Arrief Ramdhani
Serius lakukan analisis data agar PKB dijalankan sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan daerah (3/11).(usaid prioritas)
Serius lakukan analisis data agar PKB dijalankan sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan daerah (3/11).(usaid prioritas)

CIREBON – Badan Pembangunan Internasional Amerika (USAID), melalui program PRIORITAS (Prioritizing Reform, Innovation, and Opportunity for Reaching Indonesia’s Teachers, Administrators, and Students), membantu pemerintah Provinsi Jawa Barat merancang program Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan (PKB). Rangkaian program PKB diawali dengan pertemuan tingkat provinsi Jawa Barat dua bulan lalu. Kali ini merupakan lokakarya kedua yang memusatkan perhatian pada analisis data dan perencanaan strategis kebutuhan program per daerah kabupaten/kota mitra USAID PRIORITAS di Jawa Barat (3-5/11). Lokakarya yang dihelat di Swiss-Bel Hotel Cirebon ini diikuti oleh kepala dinas pendidikan, kepala kantor kemenag, dan para pemangku kepentingan pendidikan daerah kabupaten/kota mitra.

Dr. Aos Santosa, konsultan ahli tatakelola pendidikan USAID PRIORITAS, mengatakan, pemerintah daerah hendaknya melakukan PKB sesuai dengan kebutuhan daerah, sistematis, dan efisien. “Dalam konteks inilah, lokakarya analisis data dan perencanaan ini menjadi penting,” ujar Aos. Pengembangan profesi berkelanjutan, kata Aos lagi, sebaiknya menggunakan pendekatan ‘in-on-in’ (in-class, on-job training, dan in-class) dan bukannya bersifat ‘hit and run’ yang sangat sporadis. “Dengan demikian, PKB bisa dilaksanakan secara bedol-gugus,” tandas Aos. Bedol-gugus berarti semua guru di suatu gugus dilatih dengan model pelatihan USAID PRIORITAS agar semua guru berkesempatan mengalami peningkatan profesionalitas secara berkelanjutan.

banner 728x90

Erna Irnawati, koordinator USAID PRIORITAS Jawa Barat, sebut bedol-gugus merupakan kelanjutan dari pendekatan bedol-sekolah (whole school approach) dan bisa berlanjut pula pada bedol-kecamatan. “Praktik pembelajaran yang baik belum mendominasi daerah mitra USAID. Sebab itu, diperlukan pendekatan menyeluruh pengembangan keprofesian guru secara berkelanjutan,” papar Erna. Perlu analisis data yang cermat, lanjut Erna, untuk menyusun program pelatihan guru dalam rangka pengembangan keprofesian berkelanjutan. Untuk pendanaan PKB, Erna menyarankan skema persentase 55-35-15. “Program PKB bisa didanai 55% dari APBD, 35% dana mandiri sekolah, dan 15% dana mandiri guru,” jelasnya.

Utomo, Kasi Kurikulum dan Kesiswaan SD Disdik Sukabumi, mengaku pihaknya telah mencoba menjalankan gagasan bedol-gugus. “Di Kecamatan Cisaat, misalnya, kami habiskan seluruh guru dilatih model pembelajaran USAID PRIORITAS,” ucapnya. Sampak diseminasi program USAID secara bedol-gugus, menurut Utomo, kini kualitas proses pembelajaran relative lebih merata di tingkat sekolah.

Mastur, Kasi Kurikulum SD Disdikbud Ciamis, sebut telah merintis apa yang disebut sebagai ‘Kecamatan Praktik yang Baik.’ Ia telah memulai langkah-langkah diseminasi program USAID PRIORITAS di Kecamatan Banjarsari dan menargetkan seluruh guru di kecamatan itu akan dilatih. “Beberapa hari lalu, seluruh kepala sekolah di Kecamatan Banjarsari diajak menyaksikan langsung showcase nasional USAID PRIORITAS di Kemdikbud RI Jakarta (28/10), sebagai langkah awal menuju kecamatan praktik yang baik,” tutur Mastur. Inilah apa yang dimaksud dengan bedol-kecamatan oleh Erna di atas. [USAID PRIORITAS/DS]