Beasiswa Pemerintah Inggris Kembali Dibuka

oleh -5 views
Ilustrasi
Arrief Ramdhani

BEASISWA  Chevening kembali dibuka dengan mendorong kepada tantangan global lebih menuntut inovasi, kepemimpinan yang kuat, dan kolaborasi internasional. Program beasiswa pascasarjana ini dikhususkan untuk kampus-kampus yang berada di Inggris.

“Chevening berupaya membangun komunitas internasional di mana orang-orang tersebut memiliki komitmen pada nilai-nilai itu dan untuk mendorong perubahan positif,” kata Kepala Beasiswa di Kementerian Luar Negeri, Persemakmuran, dan Pembangunan Inggris (FCDO) Naomi Rayner melalui siaran resmi yang diterima Republika.

PERKEMBANGAN VIRUS CORONA

Berita Selengkapnya

Pendaftaran program beasiswa dari Pemerintah Inggris Raya, yang didanai
oleh Kementerian Luar Negeri, FCDO, dan organisasi-organisasi mitra ini dibuka dari 3 September sampai 3 November 2020. Pendaftaran peserta dapat diajukan melalui www.chevening.org/apply.

Ada lebih dari 1.500 beasiswa yang ditawarkan di seluruh dunia untuk tahun akademik 2021/2022. Sebelumnya, 51 penerima beasiswa dari Indonesia dan Timor-Leste sudah terpilih untuk melanjutkan studi mereka di perguruan tinggi Inggris tahun ini.

“Di Inggris, kami bangga dengan universitas-universitas kami yang berkelas dunia dan memiliki lingkungan belajar yang kaya oleh keragaman budaya, pengalaman, dan sudut pandang,” kata Rayner mempromosikan pilihan kampus yang beragam.

Direktur Chevening, Miranda Thomas, mengatakan dengan mengikuti program beasiswa Chevening, peserta bukan hanya menempuh strata dua dan mendapatkan gelar. Mereka akan mengalami budaya Inggris dengan terlibat dalam acara eksklusif.

“Sebelumnya, para mahasiswa berkesempatan mengunjungi kediaman Perdana Menteri Inggris di 10 Downing Street, mendaki Gunung Snowdon di Wales, memamerkan seni di galeri London, magang di BBC, dan duduk di ruang ganti Anfield,” ujar Thomas.

Duta Besar Kerajaan Inggris Raya untuk Indonesia dan Timor-Leste, Owen Jenkins, mengatakan beasiswa Chevening pun terbuka untuk umum. Dia menekankan tidak ada namanya mahasiswa ‘tipikal’. Usia, ras, jenis kelamin, agama, dan latar belakang budaya tidak menjadi masalah.

“Jika ini terdengar seperti kualitas di diri Anda, maka kemungkinan besar Anda akan cocok dengan komunitas kami yang terdiri lebih dari 50 ribu alumni di seluruh dunia,” ujar Jenkins.(republika.co.id)