Baru Separuh Guru di Cianjur Ikuti Pelatihan Kurikulum 2013

oleh -2 views
Ilustrasi Kurikulum 2013
Arrief Ramdhani
Ilustrasi Kurikulum 2013
Ilustrasi Kurikulum 2013

PENERAPAN kurikulum baru 2013 yang dilakukan pada tahun ajaran 2014/2015 masih menyisakan masalah bagi Kabupaten Cianjur. Pasalnya, baru separuh guru yang sudah mengikuti pelatihan.

Data Dinas Pendidikan (Disdik) Kab. Cianjur, menunjukkan dari jumlah total guru Sekolah Dasar (SD) sebanyak 12.464 orang, yang sudah mengikuti pelatihan kurikulum baru sebanyak 6.580 orang.

Sedangkan untuk Sekolah Menengah Pertama (SMP) dari 3.280 guru, yang sudah mengikuti pelatihan sebanyak 2.350 orang. Untuk Sekolah Menengah Atas (SMA), dari 1.240 orang, yang sudah mengikuti pelatihan sebanyak 982.

Sementara untuk Sekolah Menengah Kejuruan dari 1.390 orang guru, yang mengikuti pelatihan sebanyak 1.120 orang,

“Kalau dilihat dari data jumlah guru di SD masih banyak yang belum mengikuti pelatihan. hHampir separuhnya. Namun, kami targetkan pada 2015 semua sudah mengikuti pelatihan kurikulum baru. Peralihan kan pasti butuh tahapan,” ucap Sekretaris Disdik CIanjur, Jum’ati saat ditemui di kantornya, Cilaku, Cianjur, Rabu (23/7/2014).

Jum’ati mengatakan untuk sarana prasaran penunjung penerapan kurikulum baru seperti pengadaan buku untuk SMA/SMK sudah hampir 90 persen pemesanan buku sudah direalisasikan, untuk SD dan SMP baru sekitar 20 persen realisasinya.

“Untuk realisasi buku pelajaran kurikulum baru pada 5 Agustus semua sudah terealisasikan. Untuk SD dan SMP saat ini masih tahap pemesanan. Semua buku itu gratis karena dananya diambilkan dari Danan Bantuan Sekolah (BOS).,” tuturnya.

Perbedaan kurikulum baru, kata Jum’ati, adalah metode pengajaran dan isi dari mata pelajaran yang diajarkan.

“Perbedaannya bagi para guru adalah perubahan sikap yang tadinya secara konvensional dalam mengajar kini dituntut lebih modern yang artinya guru hanya mengarahkan saja dan merangasang anak untuk lebih kritis dan aktif,” katanya.

Sedangkan untuk isi mata pelajaran, kata Jum’ati, budi pekerti dan pendidikan karakter akan lebih kental dalam kurikulum baru.

“Kalau dulu hanya mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan dan Pendidikan Agama yang kental dengan pendidikan karakter, kini semua mata pelajaran disisipi kandungan pendidikan karakter. Oleh karena guru harus memiliki kesiapan,” ucapnya.

Bagi siswa, Jum’ati menuturkan sebenarnya tidak jauh berbeda dengan kurikulum lama hanya saja siswa juga nantinya diminta lebih adaptif dari pola mendengarkan saja guru menerangka. Kini, lebih aktif dan kritis.

Sementara itu, Ketua Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Cianjur, Mukharom menuturkan semua guru di Cianjur sudah siap engan adanya kurikulum baru. pasalnya, kata dia, prinsipnya guru harus lebih fleksibel dan tidak kaku.

“Perubahan pola ajar di wilayah perkotaan Cianjur sudah dimulai sejak beberapa tahun lalu. paling yang agak lebih dintuntut adalah guru-guru di wilayah pinggiran Cianjur. Namun, kami mendapatkan laporan mereka antusias mengikuti pelatihan kurikulum baru,” ujarnya.(pikiran-rakyat.com)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.