Banyak Lulusan SMK Nganggur, Jokowi Rombak Pendidikan Vokasi

oleh -3 views
Ilustrasi(pikiran-rakyat.com)
Arrief Ramdhani
Ilustrasi(pikiran-rakyat.com)
Ilustrasi(pikiran-rakyat.com)

BANYAKNYA lulusan dari Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) yang menganggur, membuat Presiden RI Joko Widodo menginginkan agar pendidikan vokasi dirombak. Selain itu, pendidikan vokasi juga harus bisa dilakukan re-orientasi pendidikan serta pelatihan vokasi menuju demand driven. Sehingga kurikulum, materi pembelajaran, praktik kerja, pengujian, serta sertifikasi juga bisa disesuaikan dengan permintaan dunia usaha dan industri.

“Ini yang paling penting saya kira harus melibatkan dunia usaha dan industri, karena mereka lebih paham kebutuhan tenaga kerja yang fokus pada pengembangan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) sektor-sektor unggulan, seperti maritim, pariwisata, pertanian, ekonomi kreatif,” ungkapnya seperti dilansir dari laman Sekretaris Negara RI, Rabu (14/9/2016).

Presiden sendiri menegaskann agar bahwa semua harus terintegrasi pada pendidikan serta pelatihan vokasi ini. Mulai dari SMK, kursus-kursus di Balai Latihan Kerja (BLK) sampai pada aturan-aturan yang mempermudah terbukanya sekolah-sekolah keterampilan swasta.

“Ini harus semuanya terintegrasi sehingga betul-betul apa yang tadi saya sampaikan di depan dapat kita kejar,” ucapnya.

Mantan Gubernur DKI Jakarta ini juga pernah menyampaikan proporsi pengangguran yang ada adalah mereka yang berasal dari lulusan SMK. Jumlahnya sebesar 9,84 persen, angka ini jauh lebih tinggi dari pengangguran lulusan SMA 6,95 persen, SMP 5,76 persen dan SD sebesar 3,44 persen. Total pengangguran terbuka sebanyak 7,56 juta, dan 20,76 persennya berasal dari lulusan SMK.

Persaingan antar negara juga semakin sengit dan berat. Meski demikian, Indonesia sendiri memiliki kekuatan besar yakni penduduk anak muda yang mencapai 60 persen.

“Sebanyak 60% dari penduduk Indonesia itu anak muda, ini kekuatan kalau kita bisa mengelola, kalau kita bisa memanfaatkan dari potensi kekuatan ini,” imbuhnya.

Jumlah tersebut akan terus meningkat mencapai 195 juta pada 2040 mendatang. Untuk itulah, angka besar ini bisa menjadi potensi bagi penggerak produktivitas nasional jika disiapkan sejak sekarang.

Presiden Jokowi terus mengingatkan agar SDM Indonesia betul-betul menjadi fokus dalam melakukan lompatan kemajuan sehingga bisa mengejar ketertinggalan negara-negara lainnya.

“Kita harus mampu membalikkan piramida kualifikasi tenaga kerja yang saat ini mayoritas masih berpendidikan SD-SMP menjadi sebuah tenaga kerja yang terdidik dan terampil,” tambahnya.(news.okezone.com)

.