Bandung Barat Targetkan APK SMA Hingga 70 persen

oleh -9 views
Ilustrasi
Arrief Ramdhani
Ilustrasi
Ilustrasi

DALAM rangka meningkatkan pemerataan pendidikan, Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Kabupaten Bandung Barat mematok target tinggi angka partisipasi kasar (APK) Sekolah Menengah Atas (SMA)/sederajat pada tahun ajaran 2014-2015.

Berdasarkan data dari Biro Statistik (BPS) di Bandung Barat hanya sekitar 60 persen saja anak usia 15-18 tahun (usia SMA) yang melanjutkan sekolah. Itu artinya APK di Bandung Barat hanya 60 persen.

banner 728x90

Kepala Bidang SMA/SMK Disdikpora Kabupaten Bandung Barat, Hasanudin mengungkapkan, tahun ajaran 2014-2015 ini APK SMA di Bandung Barat diprediksi bisa mencapai 70 persen lebih. Berbagai persiapan untuk meningkatkan APK pun telah dirancang.

“Kami berupaya meningkatkan angka tersebut. Masih sedikit lulusan SMP yang melanjutkan sekolah di KBB. Dari beberapa masalah yang kami tangkap adalah masalah biaya, jadi kami akan beri solusinya,” ungkapnya.

Sebagai langkah konkrit, lanjut Hasan, pada 2014 ini khusus SMA/SMK Negeri di Bandung Barat dana sumbangan awal tahun (DSP) akan dibebaskan, sehingga diharapkan orang tua siswa tidak lagi kebingungan untuk membayar DSP.

“Untuk siswa miskin, bukan saja DSP yang akan dibebaskan di SMA/SMK negeri, tapi juga SPP-nya dibayar oleh pemerintah. Dengan demikian diharapkan siswa yang ditampung lebih banyak,” katanya.

Selain itu, pihaknya juga telah meminta kepada SMA/SMK untuk bisa menampung siswa sebanyak-banyaknya. Walaupun di beberapa sekolah melakukan seleksi berdasarkan nilai ujian nasional siswa, namun masih mempunyai celah untuk sekolah bisa menampung siswa lebih banyak dari biasanya, dimana sistem seleksi berdasarkan passing grade, bukan berdasarkan seleksi tes.

Celah lain sekolah bisa menerima siswa sebanyak-banyaknya adalah adanya peraturan baru. Pada 2013, jumlah rombel (rombongan belajar) di tiap kelas dibatasi hanya sembilan rombel. Namun saat ini jumlah rombel tidak dibatasi, sehingga sekolah bisa memperbanyak siswa yang diterima dan menambah rombel.

Bahkan, jika ketersediaan ruang kelas tidak mencukupi, namun kemampuan guru bisa menangani, maka sekolah dimungkinkan untuk mengambil kebijakan menambah shift. Saat ini, tiap sekolah hanya bisa menjalankan satu shift saja karena jam sekolah dimulai dari pukul 07.00 sampai pukul 13.30, sehingga sekolah hanya bisa menjalankan satu shift belajar saja.

“Tapi kalau keadaan mendesak dan memungkinkan, bisa saja sekolah melakukan double shift,”katanya.

Saat ini, di Bandung Barat, ada 1329 ruang kelas dari 16 SMA negeri, 30 SMA swasta, 6 SMK negeri, 80 SMK swasta, 1 MA Negeri dan 62 MA Swasta, dengan rata-rata siswa tiap rombel berjumlah 31 orang, sementara jumlah siswa tiap rombel masih bisa lebihbanyak maksimal 40 siswa. Itu artinya, masih dimungkinkan sekolah menerima siswa lebih banyak lagi.

Hasanudin mengatakan, pada 2014 ini ada juga SMA universal yang dimungkinkan bagi anak usia sekolah SMA yang putus sekolah bisa kembali sekolah. Dimana sistem pembelajaran SMA universal ini dengan sistim online.

“Insya Allah target APK bisa tercapai, terlebih sekarang ada SMA universal yang diperuntukan bagi anak putus sekolah. SMA Universal ini gratis, bahkan berbagai perangkat pendukung pembelajarannya juga dipinjamkan secara gratis. Kami akan menampung sebanyak-banyaknya siswa yang akan ikut SMA universal,” tutupnya.(fokusjabar.com)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.