“Attitude” Lulusan ITB Masih di Bawah Ekspektasi

oleh -7 views
kampus ITB
Arrief Ramdhani
kampus ITB
kampus ITB

HASIL survei tentang kepuasan pelanggan yang dilakukan ITB terhadap pengguna alumni menunjukkan terjadi “gap” antara “hard skill” dan “soft skill” lulusan. Bila nilai terbaik adalah 5 maka lulusan ITB baru mencapai nilai 3.5.

“Oleh karena itu, kami bersama swasta memberikan pelatihan-pelatihan. Diharapkan dengan pelatihan tersebut dapat memenuhi ekspektasi yang diharapkan para pengguna alumni,” ujar Sandro Mihradi, Sekretris Bidang Kesejahteraan dan Pengembangan Karakter Mahasiswa ITB usai membuka seminat “Leadng Through Action” yang diselenggarakan PT Bank Sentral Asia (BCA), di ITB Bandung, Sabtu (20/9/2014).

Dikatakan Sandro, pihaknya melakukan riset dengan mensurvei 60-70 dunia untuk mengetahui konsistensi keterserapan lulusan. Hasilnya menunjukan ada “gap” antara “hard skill” dan “soft skill” lulusan.

“Kalau hard skill, sudah sesuai dengan ekspektasi pengguna bahkan mereka menyatakan kepuasaannya. Tetapi untuk soft skill kita masih harus memberikan pelatihan-pelatihan tambahan agar kompetensi sesuai yang diharapkan,” demikian Sandro.

Perusahaan yang menggunakan para lulusan tersebut kata Sandro, antara lain perusahaan oil, manufaktur, gas, tambang, dll. Dalam setahun, ITB meluluskan 3.000 lulusan melalui 3 kali wisuda dengan jumlah lulusan masing-masing sebanyak 1.000 alumni.

Disampaikan Chiel Manager Leraning And Development Division BCA, Hendra Tanumiharja, memasuki dunia kerja merupakan kesempatan bagi mahasiswa untuk mempergunakan ilmu pengethuan yang telah didapatkannya di kampus. Namun harus diingat, dunia kerja saat ini sangat kompetitif, bergerak dinamis, dan penuh perubahan, serta menuntut kompetensi yang tinggi di tiap bidangnya. Sehingga dibutuhkan etos kerja, motivasi, kreasi, dan inovasi yang tinggi untuk dapat masuk dan bertahan di dunia kerja. Hanya saja seringkali ditemui adanya mahasiswa-mahasiswa yang sudah masuk dunia kerja tapi masih belum sepenuhnya siapp dan memiliki bekal pengetahuan yang cukup.

“Kondisi ini yang mendorong kami menyelenggarakan seminar kepemimpinan karena faktor utama kesuksesan bersumber dari manusianya atau para mahasiswanya sebagai calon pemimpin masa depan,” demikian Hendra.

Materi seminar yang diberikan dimulai dari tingkat dasar yaitu self leadership yaitu bagaimana memulai memimpin diri sendiri, mengarahkan apd ahal-hal yang bermanfaat dan membuat yang tidak berguna sehingga nantinya diharapkan mumpuni dalam keterampilan teknis dan handal sebagai pemimpin.

Menyitir data Organization for Economic Co-operation Development (OECD) tahun 2012, pada tahun 2020 kata Hendra, Indonesia akan menjadi negara dengan jumlah sarjana terbanyak di dunia. Perningkatan sarjna ini ternyata tidak sejalan dengan penyerapan lulusan perguruan tinggi di dunia kerja. Sedangkan Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat jumlah pengangguran sarjana di Indonesia mencapai 360 ribu orang per Februari 2013. Jumlah ini merupakan 5.04% dari total pengangguran di Indonesia yang mencapai 7.17 juta jiwa.

“Salah satu faktir penyebabnya adalah kualitas lulusan sarjana yang belum sesuai dengan kebutuhan kerja. Pelatihan ini diharapkan akan dapat membekali mahasiswa sebagai calon sarjana yang lebih berkualitas dan sesuai dengan kebutuhan dunia kerja,” ujarnya.(pikiran-rakyat.com)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.