Asyiknya Siswa Belajar Menulis Karya Ilmiah Sederhana

oleh -27 views
Setiap siswa mendapat kesempatan untuk memeriksakan hasil karya tulisnya secara individual dengan guru.(prioritaspendidikan.org)
Arrief Ramdhani
Setiap siswa mendapat kesempatan untuk memeriksakan hasil karya tulisnya secara individual dengan guru.(prioritaspendidikan.org)
Setiap siswa mendapat kesempatan untuk memeriksakan hasil karya tulisnya secara individual dengan guru.(prioritaspendidikan.org)

MENULIS karya ilmiah identik dengan suasana yang serius dan hening sehingga siswa bisa konsentrasi menuangkan pemikirannya ke dalam karya ilmiah.

Akan tetapi, hal yang berbeda saya temukan saat mendampingi pembelajaran di SMP Laboratorium Percontohan yang menjadi mitra UPI dalam program USAID PRIORITAS. Suasana belajar justru begitu ramai dan meriah oleh aktivitas para siswa. Mereka sibuk dengan beragam kegiatan kelompoknya. Ada yang membaca teks, menulis, menggunting, atau membolak balik kertas. Posisi belajar mereka pun bermacam-macam. Ada yang berdiri dekat bangku, dekat papan tulis, ada yang dan duduk di bangku atau di lantai.

Kegiatan menulis mereka pun rupa-rupa. Ada yang di bangku, beralaskan dinding, papan tulis, di lantai. dan etode  M pembelajaran yang digunakan ketika itu adalah dengan berbasis copy the master kerja sama kelompok (cooperative learning).

Di dalam kondisi belajar demikian tercipta kerja sama kelompok,sikap saling bantu,  toleransi, saling menghargai, dan sikap sosial lainnya. Hal itu secara tidak langsung membentuk karakter yang akan berimbas pula pada kecakapan hidup di masa depan.

Kemampuan berpikir tingkat tinggi terlihat nyata selama aktivitas belajar. Melalui komentar siswa, tampak kegiatan saling menanggapi atas kegiatan dan karya yang sedang digarap. Kemampuan berpikir analitis dan evaluatif berkembang baik ketika mereka menanggapi karya temannya. Daya kreasi mereka terwujud berupa karya ilmiah pada  akhir pembelajaran.

Penyebab Perbedaan
Perbedaan-perbedaan suasana belajar yang tampak selama kami melakukan pengamatan dipengaruhi oleh beberapa faktor. Pertama, kehadiran lebih dari satu guru menghidupkan suasana, organisasi siswa lebih terkontrol serta perhatian dan pelayanan kepada siswa lebih merata.

Kedua, fasilitas dan sumber belajar yang lebih lengkap seperti guntingan informasi dari surat kabar oleh guru praktikan USAID mendorong siswa untuk membaca dan melakukan beragam aktivitas lainnya. Penyediaan kertas plano, alat tulis yang berwarna-warni, gunting, lem, dan sejenisnya membantu siswa melakukan aktivitas belajar.

Ketiga, penyediaan  lembar kerja siswa pada setiap tahapan pembelajarannya. Hal itu menyebabkan pembelajaran berjalan lebih sistematis dan terarah.

Namun masih ada beberapa kelemahan yang perlu diperbaiki yaitu, jam belajar yang kurang memadai. Empat jam pelajaran ternyata tidak cukup sehingga kegiatan kunjung karya (presentasi karya ilmiah siswa) dipercepat. Akibatnya, hasil yang diharapkan tidak secara optimal.

Masih ada siswa yang tidak belajar. Hal itu ditunjukkan oleh kurangnya partisipasi dalam kegiatan kelompok. Perhatian guru sangat diperlukan untuk menangani siswa semacam itu, misalnya dengan pemberian tugas yang lebih jelas di kelompoknya.(prioritaspendidikan.org)

Oleh E. Kosasi, Dosen UPI Bandung