Arahan Guru BK Bantu Tentukan Karier Siswa

oleh -10 views
kemdikbud.go.id
Arrief Ramdhani
kemdikbud.go.id
Ilustrasi (kemdikbud.go.id)

DALAM kurikulum 2013, penjurusan SMA tidak lagi dimulai pada kelas XI. Penjurusan IPA, IPS, maupun bahasa dilakukan sejak kelas X. Oleh karena itu, peran guru Bimbingan Konseling (BK) sangat dibutuhkan dalam proses tersebut.
Hal ini yang tidak bosan ditekankan oleh Program Profesor dan Doktor Go to School Universitas Negeri Semarang (Unnes) di tiap kunjungan ke sekolah-sekolah. Termasuk Sugiyono ketika menyambangi SMAN 1 Bukateja, Purbalingga.

Sugiyono menyebut, peranan guru BK dalam implementasi Kurikulum 2013 sangat diperlukan oleh peserta didik, terutama saat siswa menentukan peminatan. Guru BK harus mampu memfasilitasi siswa agar menemukan bidang, jurusan, serta karier yang sesuai minat dan potensinya. Pilihan yang tepat akan membantu siswa mencapai perkembangan optimum.

“Dulu image guru BK tugasnya memarahi siswa. Namun sebetulnya guru BK itu sangat mulia, yakni membimbing siswa supaya terarah. Kini dalam implementasi kurikulum 2013 tugas guru BK berkolaborasi dengan guru mata pelajaran dan orangtua,” imbuh Sugiyono, seperti dikutip dari laman Unnes, Jumat (6/6/2014).

Dia menyatakan, pelaksanaan implementasi kurikulum 2013 dapat menimbulkan masalah besar bagi peserta didik SMA, SMK, dan MA yang tidak mampu menentukan pilihan peminatan secara tepat. Dampaknya peserta didik kesulitan belajar dan kecenderungan gagal dalam belajar. Oleh karena itu, guru BK sangat berperan dalam pemilihan peminatan.

“Peminatan merupakan proses yang berkesinambungan, harus berpijak pada kaidah-kaidah dasar yang secara eksplisit dan implisit, terkandung dalam kurikulum. Penetapan peminatan peserta didik hendaknya sesuai dengan potensi diri, minat, dan kecenderungan pilihan peserta didik, supaya proses serta hasil belajar baik,” jelasnya.

Pria kelahiran Yogyakarta 11 April 1952 itu mengemukakan, pelayanan peminatan pada peserta didik membantu dalam memilih dan menetapkan mata pelajaran yang diikuti, memahami dan memilih arah pengembangan karier, menyiapkan diri, serta memilih pendidikan lanjutan sampai ke jenjang perguruan tinggi sesuai dengan potensi dirinya.

“Pemilihan peminatan kelompok mata pelajaran di SMA/MA berdasarkan nilai rapor SMP/MTs, nilai ujian nasional SMP/MTs, rekomendasi guru BK di SMP/MTs, hasil tes penempatan ketika mendaftar di SMA/MA, dan tes bakat minat oleh psikolog/konselor,” kata Ketua program studi Manajemen Pendidikan Pascasarjana Unnes itu.

Pada semester kedua di Kelas X, lanjutnya, seorang peserta didik masih mungkin mengubah peminatan berdasarkan hasil pembelajaran di semester pertama dan rekomendasi guru BK. Dalam menentukan peminatan guru BK bekerja sama dengan kepala sekolah, wakil kepala sekolah, guru mata pelajaran, wali kelas, dan orangtua.

“Apabila terjadi kesulitan atau ketidakcocokan antara pilihan peserta didik dengan orang tua (anak memilih IPS sedangkan orang tua harus IPA), maka peserta didik dan orangtua dapat berkonsultasi dengan guru BK/Konselor,” tutup Profesor Psikologi Pendidikan dan Bimbingan itu.(kampus.okezone.com)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.