Anggaran Rp 41 Miliar Telah Didistribusikan untuk Penelitian Virus Corona di Indonesia

oleh -0 views
Ilustrasi

ANGGARAN sebesar Rp 41 miliar dari Kementerian Riset dan Teknologi/Badan Riset Inovasi Nasional sudah terdistribusikan untuk mendanai kegiatan penelitian mengenai virus corona.

Anggaran yang terdistribusikan itu sekitar 68% dari total anggaran yang disediakan Rp 60,6 miliar.

Sebagaimana diketahui, Kemenristek/BRIN sebelumnya membentuk Konsorsium Riset dan Inovasi Covid-19.

Tujuannya untuk mendukung percepatan penanganan pandemi virus corona. Keanggotaan konsorsium ini terdiri dari kalangan perguruan tinggi, lembaga penelitian, kementerian kesehatan.

Berdasarkan data Kemenristek/BRIN, konsorsium ini mendapatkan anggaran Rp 90 miliar. Anggaran itu digunakan untuk mendanai berbagai penelitian yang telah melewati saringan proposal penelitian. Ada dua tahap saringan proposal penelitian.

Anggaran sebesar Rp 60,6 miliar dimana Rp 41 miliar di antaranya sudah disalurkan merupakan anggaran tahap pertama yang dikeluarkan. Pada tahap pertama ini, ada 134 proposal yang berhasil lolos seleksi.

Adapun sisanya sebesar Rp 29,4 miliar menjadi anggaran yang keluar pada tahap kedua.

Menristek/BRIN, Bambang Brodjonegoro mengatakan, penyaringan proposal penelitian tahap dua telah dibuka mulai Senin 18 Mei 2020 lalu. Pendaftaran dan penyerahan proposal penelitian diterima paling lambat 2 Juni 2020.

Proposal penelitian itu ditentukan dalam 4 tema, yakni terkait dengan pencegahan, pemindaian dan diagnosis, alat kesehatan dan pendukung, kemudian pengobatan dan terapi. Selain ilmu pasti, Bambang juga menuturkan, pihaknya mendukung proposal penelitian di bidang sosial humaniora serta model kebijakan kesehatan masyarakat.

“Dalam kondisi pandemik ini, semua orang ingin tahun kapan pandemik berakhir dan apa syaratnya supaya pandemik itu segera berakhir, misalnya. Kemudian juga bagaimana  mitigasi supaya bisa diterapkan di masyarakat,” kata Bambang menjelaskan tentang perlunya penelitian di bidang sosial-humaniora.

Mengenai perkembangan penelitian pada tahap pertama, Bambang mengatakan, dari Rp 41 miliar yang sudah terdistribusikan sejauh ini, dipakai untuk berbagai riset. Ada riset yang berbentuk pengembangan teknologi screening atau diagnosis, seperti rapid test maupun PCR test. Kemudian riset pengembangan alat kesehatan dan pendukungnya, seperti ventilator.

“Tentunya alat pelindung diri, maupun upaya-upaya untuk mensterilkan APD maupuan mensterilkan RS sehingga bisa menyelematkan tenaga kesehatan. Itu masuk kategori alkes dan pendukungnya,” kata Bambang.

Ia menambahkan, riset yang dibutuhkan saat ini adalah di bidang obat-obatan dan terapi. Beberapa riset di bidang ini tengah dikembangkan.

“Tapi, selain itu juga kita berikhtiar dengan terapi, salah satunya adalah plasma konvalesen ini langsung berupaya untuk menolong pasien yang sedang dalam kondisi berat akibat covid-19. Ini dengan mempergunakan plasma yang diambil dari pasien yang sudah sembuh dari covid-19,” ujarnya.

Beberapa hasil riset dan inovasi tahap pertama ini bahkan telah diserahkan kepada Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) April 6 April 2020 lalu dan digunakan oleh berbagai fasilitas kesehatan yang membutuhkan.

Produk tersebut antara lain Tes Kit baik yang berbasis PCR atau non PCR, handsanitizer dari LIPI-BPPT, mobile handwasher dari BPPT, ventilator, robot kesehatan (Raisa) dari ITS-Unair, alat kesehatan lain dan APD dari beberapa pusat riset.

Beberapa produk lainnya akan segera diluncurkan pada tanggal 20 Mei 2020 bertepatan dengan Hari Kebangkitan Nasional. Menurut Bambang, itu diniatkan sebagai momentum dalam kebangkitan “Inovasi Indonesia” menuju Kemandirian bangsa pada produk kesehatan, khususnya dalam penanganan Covid-19.(pikiran-rakyat.com)