Anak-anak Belum Merdeka

oleh -0 views
Ilustrasi
Arrief Ramdhani
Ilustrasi
Ilustrasi

HARI anak nasional yang biasa diperingati setiap 23 Juli tampaknya belum begitu dirasakan sebagian anak-anak di Kabupaten Bandung. Masih banyak anak usia sekolah yang terpaksa bekerja.

Tengok saja pusat-pusat keramaian dan tempat lainnya di Kabupaten Bandung. Begitu mudahnya ditemukan anak-anak usia sekolah yang mengais rejeki dengan bekerja serabutan.

Sebut saja Terminal Soreang, Banjaran, Ciwidey, Majalaya, Margahayu, Cileunyi dan di tempat-tempat keramaiannya di setiap kecamatan di Kabupaten Bandung.

Ada yang jadi pemulung, pengamen, kusir delman, ojek payung, kuli panggul dan lain sebagainya. Banyak di antara mereka yang terpaksa bekerja serabutan membantu orang tuanya. Kesulitan ekonomi jadi alasan.

“Anak terpaksa bekerja membantu perekonomian keluarga. Karena memang orang tuanya belum bisa meningkatkan kesejahteraannya,” kata Direktur Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Sahabat Anak dan Remaja (SAHARA) Indonesia, Agus Muhtar Sidik, Jumat (22/7).

Agus mengatakan, sebaran pekerja anak di Kabupaten Bandung ini, bisa dikatakan cukup merata. Biasanya mereka berada di pusat-pusat keramaian di setiap kecamatan.

Mereka ini biasa melakukan pekerjaan-pekerjaan serabutan dan dilakukan ada yang selepas sekolah.Tapi banyak juga di antaranya yang memang sudah putus sekolah.

“Kalau jumlah pasti saya tidak ada datanya. Tapi kira-kira yah antara 0,1 % hingga 0,3% dari jumlah total anak di Kabupaten Bandung lah. Kalau pemerintah membantah. Silakan saja turun langsung ke lapangan, benar tidak apa yang saya katakan ini,”ujarnya.

Keadaan seharusnya diperhatikan betul oleh pemerintah daerah. Terutama dalam hal menyediakan lapangan pekerjaan yang layak bagi warga.

Begitu juga dengan kebijakan-kebijakan lain yang dikeluarkannya, seharusnya lebih berpihak terhadap upaya peningkatan kesejahteraan rakyatnya.

Selain pekerja anak, lanjut Agus, permasalahan lain yang tak kalah seriusnya adalah penyimpangan perilaku anak dalam kehidupan sehari-harinya.

Kata dia, tidak sedikit anak usia sekolah atau anak dibawah usia 17 tahun yang hidup di jalanan. Sebagai gelandangan, pengemis dan juga anak-anak punk.

Kehidupan jalanan yang keras tentu sangat rentan terhadap tumbuh kembang anak. Belum lagi perilaku negatif seperti perkelahian, mabuk-mabukan, seks bebas dan lainnya.

“Lihat saja di jalan-jalan atau tempat keramaian. Banyak anak-anak bergerombol berdandan ala punk, begitu juga dengan anak yang menjadi gelandangan dan pengemis. Mereka itu rentan terhadap kekerasan dan juga penyimpangan perilaku,” kata Agus.

Padahal sebenarnya, lanjut Agus, anak harus mendapatkan jaminan kehidupan yang layak. Seperti mendapatkan tempat tinggal yang layak, pendidikan yang baik, kasih sayang dari orang tua dan lingkungan sekitarnya.

Kelak, tambah Agus, anak-anak ini tumbuh menjadi pribadi yang kuat, mandiri dan memiliki daya saing dengan menghadapi kehidupannya.(inilahkoran.com)