Akses Buku Sulit, Minat Baca di Indonesia Masih Rendah

oleh -13 views
Ilustrasi
Arrief Ramdhani
Ilustrasi
Ilustrasi

BERDASARKAN data dari UNESCO, kawasan ASEAN merupakan kawasan yang memiliki minat baca paling rendah sedunia. Hal tersebut sebagian besar ditemukan di Indonesia, yakni dari sekitar 1.000 penduduk hanya 1 orang yang memiliki minat membaca buku yang tinggi.

“Kita sering dengar  bahwa minat baca kita rendah, lantas apa sikap kita menyikapinya. Acuh tak acuh, masa bodoh, ataukah mencari faktor penyebabnya?” ujar pengelola Sudut Baca Soreang, Agus Munawar saat diskusi bertajuk “Buku di Hati Masyarakat” dalam gelaran “Padjadjaran Information and Cultural Event (Price)”, yang digelar oleh Himpunan Mahasiswa Ilmu Informasi dan Perpustakaan (Himaka) Fikom Unpad, Selasa (23/04) di Bale Santika Kampus Unpad Jatinangor.

Lebih lanjut Agus mengungkapkan, ada berapa faktor rendahnya minat baca di Indonesia. Pertama, masih sulitnya akses terhadap buku. Hal tersebut disebabkan oleh jumlah toko buku yang terbatas, sedikitnya perpustakaan yang masih sedikit di satu wilayah, dan daya beli masyarakat yang rendah.

Hal kedua, buku yang ada kurang mencerminkan kebutuhan masyarakat. Hal inilah yang menyebabkan masyarakat masih sulit mengakses informasi yang dibutuhkan melalui buku. Hal terakhir ialah media promosi buku yang terlalu serius dan “angker” sehingga belum mampu menarik minat masyarakat untuk membeli buku tersebut.

Agus pun optimis seyogyanya masyarakat Indonesia mampu menepis konidis tersebut. Salah satunya ialah dengan mendorong kembali gerakan membaca di masyarakat. Pembukaan Taman Bacaan Masyarakat (TBM) dan perpustakaan dinilai mampu menggalakkan kembali minat baca di masyarakat. Terbukti, TBM Sudut Baca Soreang yang dikelola olehnya banyak sekali didatangi masyarakat, khususnya anak-anak.

“Salah satu fungsi dari TBM adalah menyadarkan masyarakat bahwa buku sendiri erat kaitannya dengan kehidupan,” ujar Agus.

Sementara itu, Ketua Departemen Ilmu Informasi dan Perpustakaan Fikom Unpad, Wina Erwina, dra., M.A., perpustakaan dituntut untuk menjadi ruang yang mampu hidup, bukan hanya sebagai tempat untuk membaca, namun segala aspek yang berkaitan dengan kehidupan.

“Departemen Ilmu Informasi dan Perpustakaan Fikom Unpad sendiri tengah menggalakkan program mengajak anak-anak sekolah agar mencintai perpustakaan,” ujarnya.

Dalam kesempatan tersebut, Wina pun memberikan penjelasan mengenai profil Departemen Ilmu Informasi dan Perpustakaan kepada peserta yang terdiri dari pelajar, guru, dan mahasiswa.

Kegiatan “Price” tersebut digelar untuk memperingati World Book Day yang jatuh setiap tanggal 23 April. Menurut ketua pelaksana kegiatan, Febriyanti, dalam kegiatan kali ini juga pemberian sejumlah buku kepada 12 perpustakaan sekolah di sekitar Jatinangor, yaitu perpustakaan SDN Hegarmanah, MTs At-Tarbiyah, MA Darul Ummat, SMA 5 Muhammadiyah Rancaekek, MI Cibeusi, SMK PGRI Jatinangor, SMAN Jatinangor, SMA Darul Fatwa, SMK Asmaul Husna, MTS Al-Ma’arif, SMU Al Hawari, dan SMP PGRI Jatinangor. Pemberian buku tersbeut diserahkan secara simbolis oleh Dekan Fikom Unpad, Prof. Deddy Mulyana, M.A., Ph.D., kepada perwakilan sekolah.*.(www,unpad.ac.id)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.