5 Fokus Pengembangan Riset Indonesia

oleh -20 views

Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Mendikbudristek) Nadiem Anwar Makarim menyebutkan soal lima fokus pengembangan riset Indonesia ke depan. Pertama, green economy atau green zone.

Perubahan iklim dan struktur energi di dunia membawa dampak bagi seluruh bangsa termasuk Indonesia. Bencana alam yang sering terjadi di Indonesia secara nyata adalah bukti dari perubahan iklim yang sedang terjadi. “Maka kita mengembangkan energi terbarukan (renewable energy) bergerak ke arah efisiensi energi,” tutur Menteri Nadiem.

PERKEMBANGAN VIRUS CORONA

Berita Selengkapnya

Kedua, blue economy yang merujuk pada pengembangan ekonomi yang didukung pemanfaatan potensi kemaritiman nasional yang luar biasa. “Aset terbesar kita adalah ekonomi maritim. Oleh karena itu, kita juga harus merawat kekayaan bahari kita sambil memitigasi dampak perubahan iklim itu sendiri agar kebermanfaatannya dapat terus kita rasakan khususnya bagi masyarakat di daerah pesisir,” lanjut Nadiem.

Ketiga adalah transformasi digital. Perkembangan digital akan mengubah cara hidup manusia termasuk di dalamnya mekanisme pemerintah, industri, dan manajerial. “Kita harus terus melakukan akselerasi dalam teknologi digital termasuk Artificial Intelligence agar tidak tertinggal,” kata Menteri Nadiem.

Keempat, area lainnya yang tidak kalah pentingnya adalah bidang pariwisata. Indonesia memiliki kekayaan alam yang dapat menjadi aset pariwisata namun capaiannya belum bisa melampaui negara lain yang kekayaan alamnya berada di bawah Indonesia. “Oleh karena itu, kita harus menjadi pemain dunia dalam pariwisata,” pesan Nadiem.

Kelima, area kesehatan. Akibat pandemi Covid-19, teknologi di bidang kesehatan berkembang pesat. “Ke depan, bagaimana kita mengakselerasi kemandirian di sektor kesehatan kita dengan menghasilkan alat-alat kesehatan dan metode terapi terkini yang sejalan dengan perkembangan teknologi,” terang Menteri Nadiem.

“Lima aspek ini menjadi lima fokus riset kita untuk mengatasi semua permasalahan yang paling kritis sebagai bangsa untuk memanfaatkan kekayaan terbesar kita dalam memajukan perekonomian. Oleh karena itu menurutnya, perlu ada paradigma baru untuk menghilangkan pembatasan antara dunia akademi dengan dunia industri agar riset kita semakin berkembang,” imbuhnya.

Untuk memecahkan sekat pembatas tersebut, maka semua pihak, menurut Mendikbudristek, perlu memandang ekosistem riset sebagai satu kesatuan. Di mana sejak awal, akademisi dan industri menjadi satu kesatuan dalam project based sehingga ada kolaborasi dan ruang-ruang inovasi yang tercipta bersama. Sedini mungkin antara keduanya juga dilakukan diskusi menyangkut kebutuhan, dampak, dan manfaat dari riset yang akan dilakukan.

“Dari sisi regulasi kita merdekakan sekat-sekat tersebut sehingga dosen dapat berkarier di tengah menjalankan risetnya, mahasiswa dapat terlibat dalam riset dan tidak perlu mengorbankan SKS, karena dapat kredit penuh. Kita dukung passion dan minatnya,” lanjutnya.