5.000 Pelajar dan Mahasiswa Meriahkan Angklung’s Day 2015

oleh -13 views
5.000 Pelajar dan Mahasiswa Meriahkan Angklung's Day 2015(inilahkoran.com)
Arrief Ramdhani
5.000 Pelajar dan Mahasiswa Meriahkan Angklung's Day 2015(inilahkoran.com)
5.000 Pelajar dan Mahasiswa Meriahkan Angklung’s Day 2015(inilahkoran.com)

SEJAK Sabtu (21/11/2015) pagi, ribuan pelajar dan mahasiswa telah memenuhi halaman Gedung Sate untuk memeriahkan Angklung’s Day 2015. Sambil mengenakan aneka kostum, para peserta secara berkelompok bergantian memainkan alat musik berbahan bambu khas masyarakat sunda tersebut di atas panggung.

Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Jabar, Nunung Sobari mengatakan kegiatan Angklung’s Day bagian dari peringatan angklung sebagai warisan budaya dunia sejak 2010 lalu. Meski sudah mendapat pengakuan selama lima tahun oleh Unesco namun kegiatan angklung harus terus dilakukan.

banner 728x90

“Angklung’s Day bukan hanya memperingati tapi juga menggerakan kegiatan angklung,” ujarnya kepada wartawan Sabtu (21/11/2015).

Menurutnya, upaya untuk terus menghidupkan angklung dapat dilakukan dengan meningkatkan frekuensi kegiatan. Sebab, lembaga dunia akan setiap saat menilai dan mengevaluasi angklung Indonesia.

 

Dia menjelaskan kegiatan Angklung’s Day dimeriahkan oleh 120 komunitas mulai dari siswa TK, SD, SMP, SMA hingga perguruan tinggi di Jabar. Terdapat pula sanggar dan komunitas pecinta angklung.

 

“Kegiatan ini diikuti kurang lebih 5.000 orang yang memainkan lagu daerah, lagu pop nasional dan internasional,” katanya.

 

Nunung menuturkan angklung sudah menjadi icon Indonesia di internasional dan tersebar di berbagai negara. Karena itu, seluruh sektor mesti ikut memperkokoh pengakuan alat musik yang terbuat dari bambu ini mulai dari pemerintah, dunia pendidikan, pariwisata, dan kebudayaan.

 

Lebih lanjut ditururkannya, Jabar merupakan rumah kelahiran angklung, terutama angklung diatonis yang muncul sejak tahun 60-an. Di Jabar sendiri, terdapat beberapa angklung tradisional seperti dari Bogor (Gubrag), Cirebon (Bungko), dan lain-lain. Angklung tradisional ini biasanya digunakan untuk upacara dan arak-arakan.

 

Dia berharap sanggar-sanggar angklung di daerah dapat berkembang dan mencontoh Saung Udjo yang secara berkala melakukan pagelaran angklung. Terlebih, jumlah pengunjung Saung Udjo sendiri sudah melebihi kapasitas.

 

Namun, setiap sanggar angklung harus punya keunikan sebagai pembeda dari sanggar lainnya, salah satunya dengan mengembangkan angklung tradisional dari daerahnya masing-masing.

 

“Angklung tradisional bisa dikolaborasikan dengan seni dan budaya di masing-masing daerah,” jelasnya.

 

Pemprov berupaya memberikan apresiasi kepada pelaku yang punya kepedulian dalam dalam pelestarian seni dan budaya melalui Anugrah Seni Budaya dan Pariwisata. Ajang ini digelar setiap tahun.

 

“Mudah-mudahan di 2016 ada penghargaan bagi tokoh angklung dari Gubernur Jabar,” pungkasnya.( inilahkoran.com)