166 Pemda Meniadakan Aktivitas Disatuan Pendidikan, Kemendikbud : Belajar di Rumah Didukung Beberapa Platform Pembelajaran Daring

Monday 23 March 2020 , 11:41 AM

ilustrasi (e learning)(Piqsels)

KEMENTERIAN  Pendidikan dan Kebudayaan melaporkan bentuk-bentuk pembelajaran di rumah dari berbagai daerah. Berdasarkan data Kemendikbud, sejauh ini telah ada 166 pemerintah daerah yang telah meniadakan aktivitas disatuan pendidikan.

Kepala Dinas Pendidikan Provinsi DKI Jakarta, Nahdiana mengatakan, pihaknya berkolaborasi dengan sejumlah komunitas pendidikan yang memberikan dukungan beberapa platform pembelajaran daring. Platform tersebut dikatakannya dapat dijadikan pilihan sesuai dengan kondisi sekolah masing masing-masing.

Ia menambahkan, platform itu juga dapat  dimanfaatkan untuk mencapai kompetensi minimum siswa dalam pelaksanaannya. Program ini menyediakan konten-konten pembelajaran daring yang dapat diakses secara gratis oleh guru, orang tua, dan anak.

“Guru dan Tendik melaporkan aktivitas harian kepada kepala sekolah. Kepala sekolah yang mengatur jadwal piket sesuai kebutuhan. Dengan mempertimbangkan kondisi kesehatan, usia, domisili, hingga kondisi kesehatan keluarga dari pegawai, serta peta sebaran Covid-19 yang dikeluarkan pemerintah,” kata Nahdiana sebagaimana dikutip dari siaran pers Kemendikbud.

Kepala Dinas Pendidikan Kota Tangerang Selatan Taryono mengatakan, penerapan pembelajaran daring telah dilakukan sejak Senin, 16 Maret 2020 seiring dengan kebijakan Kepala Daerah untuk melakukan penghentian sementara aktivitas di sekolah-sekolah di bawah kewenangan Pemerintah Kota Tangerang. Kebijakan ini diberlakukan kepada 179 sekolah menengah pertama (SMP), 320 sekolah dasar (SD), dan 600 pendidikan anak usia dini (PAUD).

Ia mengatakan, pembelajaran daring dilakukan dengan disesuaikan kemampuan masing-masing sekolah. “Belajar menggunakan teknologi digital, di antaranya Google Classroom, Rumah Belajar, dan lain-lain. Namun, yang pasti dilakukan adalah pemberian tugas melalui pemantauan pendampingan oleh guru melalui WhatsApp, sehingga anak-anak betul-betul belajar,” ujar Taryono.

Menurutnya, para guru juga bekerja dari rumah. “Guru juga harus berkoordinasi dengan orang tua, bisa lewat video call maupun foto untuk memastikan ada interaksi,” tuturnya.

Kemudian di Provinsi Kalimantan Barat, Sebagian besar guru sudah membagikan materi-materi pembelajaran dan tugas yang harus dikerjakan di rumah melalui media sosial. Seperti halnya yang telah dilakukan oleh Komunitas Guru Belajar Daerah (KGBD) Sanggau, para guru memanfaatkan media sosial dengan membuat grup di platform WhatsApp dan Telegram, baik bagi siswa maupun bagi orang tua siswa.

Guru SD Negeri 09 Sanggau, Kalimantan Barat, Titis Kartikawati mengatakan, kelas dibuka mulai dari pukul 07.00 hingga 12.00 melalui grup WhatsApp siswa. Dalam hal pelaksanaannya, kelas itu juga dibantu orang tua atau kakak siswa sebagai narasumber yang langkah-langkahnya telah diberikan melalui grup tersebut.

“Untuk laporan pelaksanaan pembelajarannya dapat berupa foto atau video yang harus di posting melalui grup tersebut,” katanya.

Guru SMA Negeri 7 Pontianak, Timur Setiawan mengatakan,  metode pembelajaran secara daring telah diterapkan melalui pembelajaran melalui portal Rumah Belajar dan penyampaian materi melalui file berformat pdf yang dibagikan melalui media sosial.

Di Kota Bogor, Kepala Dinas Pendidikan Fahrudin mengatakan, semua sekolah semua jenjang sekolah telah melaksanakan pembelajaran daring. “SD ada sekitar 260, SMP ada 123, SMA sekitar 50, SMK sekitar 100, TK PAUD sekitar 300,” ucapnya.

Plt. Kepala Biro Kerja Sama dan Humas Kemendikbud Ade Erlangga Masdiana mengatakan, belajar di rumah tidak berarti memberikan tugas yang banyak kepada siswa atau mahasiswa. Tapi, menghadirkan kegiatan belajar mengajar yang efektif sesuai dengan kondisi daerah masing-masing.

“Senin 23 Maret 2020 ke depan beberapa daerah masih menerapkan Kegiatan Belajar Mengajar di rumah. Untuk itu kami mengajak kepada para pendidik untuk menghadirkan belajar di rumah yang menyenangkan,” tutur Erlangga. (pikiran-rakyat.com)

Comments are closed.