Sungai Jadi Kebutuhan Dasar Keluarga Bentuk Karakter Anak

Wednesday 27 June 2018 , 4:08 AM

Anak-anak yang tinggal di daerah bantaran Sungai Cbalok belajar pendidikan karakter kepada mahasiswa IPB.(republika.co.id)

DAERAH bantaran sungai masuk ke dalam kategori slum area dan keluarga  yang identik dengan status ekonomi ke bawah atau keluarga prasejahtera. Di sisi lain, berdasarkan teori ekologi keluarga Urie Bronfenbrenner yang menjelaskan bahwa salah satu lingkungan mikro mempengaruhi anak adalah lingkungan fisik. Hal itu menunjukkan bahwa sungai merupakan kebutuhan dasar yang harus dipenuhi keluarga untuk membentuk karakter anak.

Berawal dari tekad kuat untuk  mendedikasikan kiprahnya sebagai mahasiswa di tengah-tengah masyarakat desa, lima mahasiswa Institut Pertanian Bogor (IPB) melakukan program gerakan ekologis dan penanaman nilai karakter bagi anak di bantaran Sungai Cibalok. Sungai ini terletak di dekat Jembatan Merah, Kelurahan Cibogor, Kecamatan Bogor Tengah, Kota Bogor, Jawa Barat.

Lima mahasiswa tersebut adalah Yulian Hadi Nurkholiq, Gita Andi Mauliani, Alfi Khafidhatun Nisa, Rizky Astana, dan Nusaibah Abdul Aziz. Mereka berada di bawah bimbingan Alfiasari SP, MSi, dosen Departemen Ilmu Keluarga dan Konsumen, Fakultas Ekologi Manusia, Institut Pertanian Bogor (Dept. IKK Fema IPB).

Kegiatan para mahasiswa tersebut merupakan  Program Kerativitas Mahasiswa Pengabdian Masyarakat (PKM-M) yang didanai oleh Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi Republik Indonesia (Kemenristekdikti RI).

“Dalam gerakan ekologis dengan nama ‘Garda Ekodaksis’ yang dapat diakses melalui akun instagram @gardaekodaksis,  kami  menerapkan penanaman karakter melalui sembilan pilar karakter yang akan diajarkan kepada anak-anak,” terang Yulian, Ketua PKM-M Garda Ekodaksis melalui rilis IPB yang diterima Republika.co.id, Senin (25/6).

Gagasan sembilan pilar tersebut dicetuskan oleh Dr  Ir  Ratna Megawangi  MSc. Ia dikenal sebagai pelopor pendidikan holistik berbasis karakter di Indonesia dan merupakan pendiri Indonesia Heritage Foundation (IHF) sekaligus pernah menjadi dosen Departemen IKK  Fema IPB.

“Kami melihat peluang besar untuk mendidik generasi muda. Kami melihat antusiasme anak-anak di sana untuk menambah ilmu cukup besar, namun sayangnya tenaga pengajar di sana terbatas sehingga intensitas pengajaran menjadi terkendala,” ungkap Yulian.

Yulian menerangkan,  salah satu bentuk dari sembilan pilar tersebut yakni mengolah limbah untuk menjaga lingkungan, bercocok tanam melalui vertikultur, serta edukasi nilai-nilai spritual dengan mengajarkan keimanan kepada Tuhan. Bantaran sungai Cibalok menjadi tujuan utama program Yulian dan rekan-rekannya didasarkan pada keprihatinan akses pendidikan terbilang sulit.

Dalam persiapan program, Yulian dan rekan-rekannya terlebih dahulu melakukan bimbingan dengan dosen pendamping mengenai teknis turun lapang, kemudian melakukan koordinasi lebih lanjut dengan stakeholder Kelurahan Cibogor.

Kegiatan Garda Ekodaksis ini merupakan rangkaian dari program yang bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan, sikap peduli, dan kompetensi anak-anak terhadap krisis ekologi.

Gita Andi Mauliani, anggota Garda Ekodaksis mengungkapkan, dengan adanya program ini, ia berharap agar anak-anak bisa menebar manfaat dan kebaikan di masyarakat luas. “Pendidikan paling utama yang dapat membentuk karakter yakni ketika masih anak-anak. Oleh karena itu,  perlu menanamkan kemandirian berpikir kepada mereka sejak dini, agar kelak mereka mampu menjadi penggerak perubahan Indonesia yang lebih baik, ” terangnya.

Ke depannya, Yulian bersama dengan rekan-rekannya akan berusaha untuk memasifkan program ini dan ketika telah menjadi program yang berkelanjutan maka akan mulai untuk membangun kerja sama dengan dinas terkait, seperti Dinas Lingkungan Hidup.(republika.co.id)

 

Comments are closed.