SMK Negeri 2 Tasikmalaya Lahirkan Beberapa Startup dengan Produk Inovatif

Monday 05 November 2018 , 7:23 AM

 

Ilustrasi (news.okezone.com)

DERETAN knalpot itu terhampar di sebuah meja. Bentuk saluran pembuangan asap kendaraan tersebut sangat khas dan kerap terlihat menempel pada sepeda motor modifikasi. Rupanya, knalpot-knalpot itu bukanlah produk pabrik atau bengkel ternama. Sejumlah siswa SMK  Negeri 2 Tasikmalaya yang menciptakannya. Para pelajar tersebut tergabung dalam startup atau perusahaan rintisan bernama Maxima Racing di SMK Negeri 2. Berbagai startup anak sekolah itu melahirkan karya-karya dan inovasi yang tak kalah dari produk-produk yang telah mapan di pasaran.

Para pelajar bahkan telah memperkenal karya mereka dalam kegiatan Launching Technopark dan Produk Technopark di SMK Negeri 2, Jalan Noenoeng Tisnasaputra, Kelurahan Kahuripan, Kecamatan Tawang, Kota Tasikmalaya, Sabtu 4 November 2018.‎ Robby Nurdiansyah (17), siswa kelas 11, jurusan Teknik Kendaraan Ringan ikut menjadi bagian dalam startup Maxima Racing. Robby menuturkan, inspirasi pembuatan knalpot berawal dari hobi para siswa mengutak-atik sepeda motor mereka. Kegandrungan akan hobi memodifikasi kendaraan melahirkan gagasan membuat sendiri saluran pembuangan asapnya.

“Kita cari model (knalpot) inspiratif lewat internet, kalau sudah ada yang cocok kita bikin sendiri,” ucap Robby saat ditemui dalam kegiatan tersebut. Bersama sejumlah siswa lain di Maxima, Robby merasakan betul jatuh bangun dalam merancang dan membuat knalpot. “Sempat uji coba, jalan, gagal, jatuh bangun, prinsipnya kita cari hikmahnya,” ucapnya. Kegagalan bisa berupa bentuk knalpot yang tak sesuai model  serta persoalan belum presisinya rancangan. Pembuatan knalpot memang butuh ketelitian yang tinggi dari para pelajar itu.

Salah memotong bahan atau ukuran knalpot tak sesuai model bakal berdampak pada kualitas suara serta tenaga kendaraan yang dihasilkan. Laju motor menjadi berat karena tenaganya tak terpacu dengan baik akibat permasalahan di pipa pembuangan asap. Namun, kegagalan-kegagalan itu menempa para siswa hingga akhirnya mampu menghasilkan produk-produk dengan kualitas baik dan bisa dipasarkan. Bimbingan guru-guru yang mendampingi membuat mereka tak cepat patah arang. Tekad menghasilkan karya membumbung tinggi pada diri anak-anak muda tersebut. Kini, Maxima memproduksi 20 knalpot setiap hari. Pesanan berdatangan bukan hanya berasal dari Tasikmalaya. ‎Pemesan juga muncul dari Ciamis, Banjar, Garut.

Mereka pun memasarkan produk menggunakan media sosal. “‎Kita biasanya menggunakan media sosial Facebook, Instagram dan juga Whatsap,” ucapnya. Dengan menggunakan fasilitas bengkel di sekolah, mereka mencoba memenuhi sejumlah pesanan knalpot yang mulai mengalir. Untuk satu knalpot karya Maxima, harganya mencapai Rp 200-500 ribu.  Knalpot-knalpot itu bisa dipakai sepeda motor balap yang berlaga  di sirkuit serta motor biasa di jalan umum. ‎”Untuk (motor) harian juga bisa karena knalpot kita sudah dilengkapi peredam suara agar tidak bising. Selain berkarya, kita juga menaati peraturan lalu lintas,” tuturnya.

Karya lain dihasilkan oleh startup siswa lain bernama MT Production. MT menciptakan robot Arm Robotic Smart. Nuranisa Salsabila (14), siswa kelas 11 jurusan Mekatronika mengatakan, pembuatan robot itu bermula dari tugas menghasilkan karya dari sekolah  yang harus dikerjakan startup MT Production. “Awalnya kami tak berminat membuat robot,” ucapnya. Mereka bahkan telah memiliki proyek lain seperti pembuatan kunci ganda sepeda motor, running teks dan sensor kelembaban tanaman. Namun waktu yang terbatas membuat mereka berpaling guna membuat robot. Bekal ilmu diajarkan di sekolah ikut mendukung rencana tersebut.

“Kita IT bisa, desainnya juga bisa  tiga dimensi, dari (ilmu) elektronika dan mekanik juga belajar, akhirnya (robot) bisa diselesaikan,” tutur Nuarnisa. Robot itu berbentuk tangan serta mampu mengambil barang-barang tertentu. “Fungsinya dapat memindahkan barang dari koordinat satu ke (koordinat) lainnya,” ucapnya. Dengan pemrograman tertentu, robot tersebut berguna untuk kepentingan industri untuk pemindahan barang-barang kimia yang tak bisa disentuh langsung tangan manusia. Inovasi para siswa itu berbuah manis saat dipamerkan. Dari tiga yang dipamerkan dalam launching, dua robot dengan harga masing-masing Rp 500 ribu dibeli oleh pengunjung.

Direktur Technopark SMK Negeri 2 Tasikmalaya Ade Heryanto menambahkan, ada 10 startup siswa yang dibina sekolah. Selain Maxima dan MT, perusahaan-perusahaan rintisan para pelajar tersebut bernama D.Co Teknopark, Electronesia, IBS Squad, Shine Electric, Maf Art Design, Paparia, Mamero, Zues Production. Mereka menciptakan sejumlah karya inovatif berupa running teks, hama digital, speaker pipa, lampu hias dan tidur bermotif, rak bunga bersusun, roda-roda gigi mesin, hingga produksi kuliner. Sejak bergulir pada awal Juli 2018, perusahaan-perusahaan rintiasan SMK Negeri 2 itu semakin berkembang hingga kini.

Sekolah, tutur Ade, mendukung pengembangan startup melalui penyediaan guru, tenaga ahli yang mendampingi para siswa membuat karya. Tak hanya itu, sekolah juga memberika dana stimulan awal sekitar Rp 1,6 juta untuk setiap startup. Bila omset dan pemasarannya semakin bagus, sekolah kembali mengucurkan uang senilai Rp 2 juta. Dengan dana tersebut, perusahaan rintisan pelajar terus berkembang dan mampu menghasilkan pemasukan untuk kegiatan operasionalnya sendiri. Dengan demikian, mereka semakin mandiri dan tak terus menerus bergantung kepada sekolah. “(Ini untuk)‎ menumbuhkan jiwa kewirausahaan, jiwa enterpreneurnya,” kata Ade.(pikiran-rakyat.com)

Comments are closed.