Sibuk? 51 Kampus Siap Kuliah Online. Unpad Salah Satunya

Wednesday 10 January 2018 , 7:56 AM

Ilustrasi

SEBANYAK  51 perguruan tinggi siap menyelenggarakan perkuliahan secara online (daring) pada tahun ajaran 2018-2019. Dari jumlah tersebut, sebanyak 32 kampus merupakan perguruan tinggi swasta (PTS) dan 19 lainnya perguruan tinggi negeri (PTN).

Pengawasan proses perkuliahan di 51 kampus tersebut langsung di bawah Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi.

Menristekdikti, Mohamad Nasir, mengatakan bahwa perkuliahan online merupakan langakah awal untuk menyambut Revolusi Industri 4.0. Menurut dia, pemerintah terus mendorong semua perguruan tinggi mampu menyelenggarakan kuliah nontatap muka tersebut. Agar berjalan efektif dan bermutu, Kemenristekdikti juga bermitra dengan 116 perguruan tinggi untuk mendukung 51 kampus pelaksana.

“Ada lima perguruan tinggi yang sudah benar-benar siap. Universitas Negeri Malang, Universitas Padjadjaran, Universitas Negeri Yogyakarta, Univeritas Muhammadiyah Yogyakarta, dan Universitas Negeri Surabaya,” ucap Nasir di Kantor Kemenristekdikti Senayan, Jakarta, Selasa 9 Januari 2018.

Menurut dia, ada tiga mata kuliah yang diprioritaskan yaitu stasistika struktur, pengembangan aplikasi web, serta akademik menulis dan membaca.

Ia menuturkan, perkuliahan nontatap muka menuntuk peningkatan mutu dan kompetensi dosen. Pasalnya, materi perkuliahan harus disampaikan dengan lebih komperehensif. Kata nasir, ada 253 mata kuliah online, 143 mata kuliah terbuka, dan 172 materi terbuka.

“Jadi dosennya dituntut untuk harus bisa beradaptasi dengan kemajuan teknologi. Kalau tak mau belajar, akan ketinggalan,” katanya.

Tantangan global

Ia menjelaskan, perkuliah online tidak lepas dari disrupsi teknologi informasi dan komunikasi (TIK) sudah mulai dirasakan di berbagai negara. Ia memperkirakan, datangnya disrupsi TIK ke dalam negeri tak bisa dipastikan, bisa 5-10 tahun lagi atau lebih cepat. Perkuliahan online digelar untuk mempersiapkan tantangan global.

“Contoh paling mudah yang sudah dirasakan dalam era disrupsi ini adalah perkuliahan tidak akan banyak secara tatap muka di kelas. Bisa melalui video conference, e-learning, distance learning. Kalau itu bisa dilakukan maka perguruan tinggi harus mulai mencoba itu,” katanya.

Kuliah terintegrasi

Direktur Jenderal Pembelajaran dan Kemahasiswaan Kemenristekdikti Intan Ahmad menjelaskan, perkuliahan daring berbeda dengan kuliah yang diselenggarakan Universitas Terbuka. Menurut dia, perkuliahan daring bisa mengintegrasikan mata kuliah antarkampus.

“Jadi misalnya, ITB membuka mata kuliah yang diambil mahasiswa UI. Mata kuliah tersebut nantinya bisa diambil untuk kredit di UI,” kata Intan.

Ia menegaskan, perkuliahan konvensial tetap penting dan tidak akan dihilangkan meskipun pelaksanaannya akan mulai berkurang. Di Indonesia, kalau memakai cara tradisional akan jalan terus, tapi perlu ditingkatkan kualitasnya.

“Program kuliah online ini akan menyasar mahasiswa dan calon mahasiswa. Dengan online, seorang dosen bisa mengajar di beberapa tempat secara bersamaan. Kualitasnya bisa dijaga. Mereka dibantu asisten-asisten yang baik,” kata Rektor Universitas Negeri Jakarta ini.

Direktur Jenderal Kelembagaan Kemenristekdikti, Patdono Suwignjo, menambahkan bahwa kecakapan dan visi rektor dalam menyambut era disrupsi TIK menjadi hal yang paling mendasar. Menurut dia, pemimpin perguruan tinggi harus mulai mengidentifikasi mata kuliah apa saja yang akan tetap diajarkan dan harus segera ditinggalkan.

“Lalu kemampuan para dosennya untuk merubah materi kuliah yang face to face menjadi materi kuliah yang distance learning. Kalau ada dosennya, saat dia menjelaskannya kurang bagus, mahasiswanya bisa bertanya. Kalau distance learning kan tidak ada dosennya. Maka materi pembelajarannya harus lebih lengkap dan jelas daripada materi pembelajaran face to face,” katanya.(pikiran-rakyat.com)

Comments are closed.

Antabuse without prescription tablets cheap deltasone contain prednisone