Satu Hari Belajar di Luar Kelas Bentuk Karakter Siswa

Friday 02 November 2018 , 7:21 AM

Siti Khodijah S.Pd.SD., (berkerudung oranye) tampak sedang memantau kelompok siswa yang mengamati lingkungan sekitar sekolah sebagai media pembelajaran..(prioritaspendidikan.org)

KOTA  Bandung berpartisipasi dalam gerakan dunia Satu Hari Belajar di Luar Kelas (Outdoor Classroom Day). Selama satu hari, aktivitas siswa dilaksanakan di luar kelas. Kegiatan ini diharapkan mampu membentuk karakter siswa yang diperlukan di abad 21.

Kegiatan ini dilaksanakan serentak pada Kamis, 1 November 2018, di seluruh dunia. Di Kota Bandung, kegiatan seremoninya digelar di SMPN 2 dam SMPN 15.

Para siswa diajak beraktivitas di luar kelas, mulai dari berolah raga, memainkan permainan tradisional, hingga latihan mitigasi bencana gempa bumi.

“Di Bandung kami punya kearifan lokal, yaitu dengan menambahkan Ikrar Bandung Santun,” kata Ketua Kegiatan Satu Hari Belajar di Luar Kelas di Kota Bandung Dikdik Setia Munardi ditemui di SMPN 2 Bandung, Kamis, 1 November 2018.

Ia mengatakan, gerakan internasional ini diharapkan bisa memotivasi guru untuk memberikan pembelajaran tanpa dibatasi ruang atau kelas. “Belajar di luar lebih asyik, menyenangkan, dan materi pelajaran lebih mudah diterima oleh siswa,” katanya.

Kegiatan ini nantinya bisa diadopsi oleh masing-masing sekolah. Sekolah bisa menentukan sendiri kapan dan bagaimana belajar di luar kelas akan dilaksanakan.

“Sampai saat ini memang belum ada payung yang mengatu khusus, tergantung kebijakan sekolah masing-masing. Ini kan juga berkaitan dengan infrastruktur. Tidak semua sekolah punya lapangan yang luas,” tuturnya.

Ia menambahkan, belajar di luar kelas mampu membuat siswa melepaskan ketegangan, membangun suasana yang akrab. Guru tak hanya menyampaikan materi tetapi juga berinteraksi dengan siswanya.

Hal itu diyakini akan membentuk kemampuan berkomunikasi, berpikir kritis, kreatif, dan kolaboratif siswa. “Itu tuntutan abad 21. Maka guru harus lebih dulu menguasai itu,” tuturnya.

Kepala Dinas Pendidikan Kota Bandung Elih Sudiapermana berharap, guru-guru bisa memilih model pembelajaran yang kreatif dan menyenangkan, namun tetap efektif. “Ini dilakukan dalam upaya mengantarkan anak-anak mencapai kompetensi yang diharapkan, khususnya dalam rangka penguatan karakter sesuai program Bandung Masagi,” katanya.

Afira Khairunisa, siswa kelas 9 SMPN 2 Bandung tampak begitu semringah. Tak ada ketegangan sama sekali di raut wajahnya. “Iya senang sekali,” ujarnya ketika ditanya pendapatnya soal kegiatan ini.

Menurut dia, belajar di dalam kelas cenderung membuat mudah lelah, stres, dan mengantuk. “Lebih sering boleh juga,” ujarnya.

Sebenarnya belajar di luar kelas sudah dilakukan di sekolahnya. Misalnya saja saat belajar tentang tumbuhan pada mata pelajaran IPA. “Tapi baru sedikit. IPS juga bisa belajar di luar kelas,” katanya memberi usul.(pikiran-rakyat.com)

Comments are closed.