Sarana dan Prasarana Pengaruhi Angka Partisipasi Kasar

Thursday 04 January 2018 , 7:59 AM

Ilustrasi

KETERSEDIAAN  sarana dan prasarana di bidang pendidikan dapat meningkatkan Angka Partisipasi Kasar (APK). Oleh karena itu, Pemprov Jawa Barat terus meningkatkan pembangunan sarana dan prasarana.

Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan menyebutkan sebelum alih kelola APK SMA Jawa Barat berada di ranking ke-32. Salah satu persoalannya adalah sarana dan prasarana yang belum tersedia.

“Sejak alih kelola, kami sudah membangun 30.000 ruang kelas baru. Tahun ini, akan bertambah,” ucapnya dalam peresmian Ruang kelas baru (RKB) dan rehabilitasi ruang kelas di SMAN 9 Bandung Jalan Komodor Supadio, Rabu 3 Januari 2018.

Heryawan mengatakan pada 2017, dana yang dikucurkan untuk alih kelola sebesar Rp 1,7 triliun. Tahun 2018, akan meningkat menjadi Rp 1,9 triliun. “Semua berasal dari APBD Murni,” ujarnya.

Selain sarana dan prasarana, kesejahteraan guru, dijanjikan Heryawan, terus meningkat. Ia menyebutkan kenaikannya hingga 100 persen. Ia mencontohkan untuk guru dari Rp 600.000 menjadi Rp 1,25 juta. Demikian juga dengan tunjangan kepala sekolah dan pengawas.

Antisipasi banjir

Kepala SMAN 9 Bandung Agus Mulyadi menyebutkan tatanan infrastruktur sekolah perlu diperbaiki dalam mengantisipasi banjir. Diakui Agus, selama dua tahun perbaikan dilakukan.

Dalam peresmian itu, hadir juga Kepala Dinas Pendidikan Jawa Barat Ahmad Hadadi, Direktur Utama Bank BJB Ahmad Irfan dan Komandan Lanud Husein Sastranegara Iman Handoyo.

Agus menyebutkan pada April 2016, pembangunan gedung perkantoran dimulai. Selama delapan bulan, pembangunan selesai. Kemudian, saat ada banjir, tembok sekolah jebol karena diterjang banjir. “Hanya 10 menit limpahan air merendam tujuh ruangan dan perpustakaan. Sebanyak 30 unit komputer dan ribuan buku rusak. Bahkan dokumen pun hilang,” ungkap Agus.

Setelah tembok, kirmir dan benteng Sungai Citepus ambruk. Agus mengatakan kerja sama alumni dan komite sekolah mampu memperbaikinya.  Akibat banjir juga, 5 rombongan belajar siswa tidak memiliki ruang belajar. Agus mengatakan siswa memanfaatkan 4 laboratorium komputer dan 1 ruang multimedia untuk belajar.

Sumber dana

Solusi yang dilakukan sekolah, adalah dengan menaikkan permukaan bangunan yang sering terendam banjir. Pada April 2017, dengan dana Rp 150 juta, pembangunan dimulai. Disusul dengan perbaikan ruang kepala sekolah dan kloset.

Pembangunan itu, kata Agus, bersumber dari Dana Alokasi Khusus Disdik Jabar sebanyak 4 kelas senilai Rp 862 juta, dana rehabilitasi berat untuk 5 kelas senilai Rp 440 juta, dan bantuan dana CSR dari Bank BJB sebesar Rp 365 juta.

“Sedangkan kekurangan sebesar Rp 969 juta bersumber dari RKAS,” ujarnya.

Ke depan, Agus menyebutkan akan membangun kolam dan laboratorium lapangan biologi serta kewirausahaan. Sedangkan untuk antisipasi banjir akan disiapkan rumah pompa.(pikiran-rakyat.com)

Comments are closed.

Antabuse without prescription tablets cheap deltasone contain prednisone