‘Pendidikan Harus Bisa Ajarkan Keterampilan Berpikir’

Friday 04 May 2018 , 10:58 AM

Siswa sedang menanam kacang hijau dengan memakai media gelas.(prioritaspendidikan.org)

PENDIDIKAN  di sekolah yang bermuara pada kompetensi untuk mengerjakan soal ujian kelulusan dipandang sebagai pola yang telah usang. Hal itu disebabkan saat ini kita semua telah dihadapkan pada dunia yang tidak menentu, yakni era disrupsi. Yaitu era dimana revolusi teknologi telah mengubah hampir semua lini kehidupan.

“Kalau bapak-ibu guru sekarang hanya menyandarkan kemampuan kecakapan berpikir anak-anak dari hafalan materi pelajaran, maka itu berarti mereka adalah guru masa lalu karena informasi dan pengetahuan saat ini bisa disediakan internet dan mesin pencari google,” kata pendiri Gerakan Sekolah Menyenangkan (GSM), Muhammad Nur Rizal, dalam sambutannya pada Festival Pendidikan Sinar Mas Land 2018 di BSD City, Tangerang Selatan, Kamis (4/5).

Menurut Rizal, yang harus diajarkan para guru terhadap anak-anak sekarang adalah keterampilan berpikir untuk memanfaatkan ilmu pengetahuan dan informasi tersebut menjadi nilai tambah. “Yaitu nilai-nilai yang bisa untuk menyelesaikan persoalan-persoalan sosial di masyarakat kita,” kata Rizal.

Rizal mengatakan, jika pendidikan dikemas dengan cara menyenangkan sehingga siswa memiliki kemampuan bernalar yang baik dan karakter yang positif maka lingkungan kita dengan sendirinya akan dipenuhi oleh anak-anak yang ingin membangun peradaban ke depan. “Jadi sekolah masa depan adalah sekolah yang mampu memenuhi kebutuhan anak milenial, yaitu sekolah yang menyenangkan,” ujar Rizal.

Lebih dari 100 tahun yang lalu bapak pendidikan Indonesia, Ki Hadjar Dewantara, sudah tahu dan memprediksi bahwa ke depan yang dibutuhkan siswa kita adalah suasana yang membahagiakan. Karena jika anak-anak itu bahagia, maka mereka akan termotivasi untuk selalu bisa bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri.

“Ki Hadjar tahu betul bahwa sekolah itu bukan gedung, sekolah itu bukan kurikulum, dan sekolah itu bukan ujian. Tapi sekolah itu adalah sebuah taman, sebuah lingkungan yang membuat anak kita bahagia dan senang di tempat itu, kemudian diajak untuk berpikir secara nalar dan batin,” katanya.

Rizal mengungkapkan, para filsuf mengatakan ketika anak kita memiliki kemampuan rasionalitas, maka hal itu akan membangun karakter positif sehingga lingkungan menjadi lebih etis. “Ketika lingkungan dipenuhi oleh orang-orang rasionalis dan etis, maka estetika akan berkembang, yakni peradaban madani yang maju yang bisa memberi kemaslahatan bagi umat manusia,” ujar dosen Teknik Elektro UGM itu.(republika.co.id)

Comments are closed.