Mengubah Paradigma Siswa dalam Pola Pembelajaran PAI

Thursday 05 April 2018 , 7:59 AM

Aan Harlan Ansori, ketua MGMP PAI Kota Tasikmalaya ((asm/Siap Belajar)

TASIKMALAYA, SB – Ketika masuk waktunya belajar mata pelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI), tidak sedikit siswa yang merasa jenuh. Terkesan tidak menyenangkan, soalnya tidak sedikit guru yang masih menggunakan metode ceramah dalam kegiatan belajar mengajar.

Hal tersebut, menjadi perhatian dalam Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) PAI Se-Kota Tasikmalaya. Aan Harlan Ansori, ketua MGMP PAI Kota Tasikmalaya, mengatakan, melalui kegiatan Pentas PAI SMP Se-Kota Tasikmalaya, yang diselenggarakan di Pondok Pesantren Riyadlud Wadda’wah, MGMP berusaha untuk membuktikan bahwa PAI tidak selamanya kuno. Tidak mengikuti perkembangan teknologi.

“Makanya dalam acara olimpiade, kami menyelenggarakan ujiannya dengan berbasis komputer. Kalau mata pelajaran lain kan masih dengan tulis tangan. Kita sudah tidak lagi, ini sebagai upaya untuk mengikuti perkembangan zaman. Bahwa PAI itu sudah maju, mereka bisa melek teknologi. Tidak jadul lagi,” terang Aan, saat ditemui disela kegiatan.

Dalam Olimpiade itu, lanjut dia, peserta akan menghadapi ujian yang berbasis komputer. Setelah itu, mereka yang memasuki sepuluh besar disuruh untuk membuat power point untuk mempersentasikan persoalan yang sudah ditentukan dan menjadi pilihan sisiwa.

“Selain PAI itu sudah berkembang, dalam penyeleksiaannya menuju perlombaan sangat  ketat. Dan ada forum akan diadakan tanya-jawabdarihasilpersentasitersebut,” ungkapnya.

Untuk mata pelajaran PAI, standar kompetensinya sangat tinggi. Peserta didik tidak bisa seenaknya dalam mengikuti kegiatan belajar mengajar. Selain itu, kegiatan ini menjadi salah satu untuk mengenalkan dan menyampaikan nilai-nilai dari PAI.

“Kegiatan ini sejalan dengan visi-misi Kota Tasikmalaya sebagai kota religius, maju,  dan madani. Sementara itu, kan, kebanyakan sekolah-sekolah biasa yang bukan berbasis pesantren. Jadi secara tidak langsung untuk mengenalkan pondok pesantren kepada khalayak banyak,” bebernya.

Dia beralasan, dilakukannya kegiatan di pondok pesantren sebagai upaya untuk mengenalkan kultur dan budaya PAI di lingkungan pondok. Minimal,mereka yang tidaktahudantidakpernahberkunjungkepesantren bisa mengetahuisuasana pesantren yang sebenarnya.

“Ini sebagai pengenalan terkait perbedaan pelajaran yang dilakukan di pesantren dengan di sekolah. Kalau di sekolah kan terbatas hanya beberapa jam saja, kalau di pesantren hampir 24 jam aktif. Makanya kami menyelenggarkan pentas PAI ini di lingkungan pesantren,” tandasnya.(asm/Siap Belajar)

 

Comments are closed.