Mengapa Peneliti Kampus Harus Menulis di Media Massa?

Saturday 03 November 2018 , 8:48 AM

Ilustrasi

PENELITI  harus menguasai keterampilan menulis populer. Selain agar gagasannya lebih mudah dipahami masyarakat, partisipasi golongan intelektual untuk menulis populer diperlukan untuk menangkal hoaks.

“Sekarang ini banyak yang berbicara tetapi tidak kompeten,” kata Kepala Sekretariat Perusahaan Pikiran Rakyat Budhiana Kartawajiya saat memberi materi dalam Pelatihan Penulisan Artikel di Media Massa bagi Tenaga Pendidik dan Peneliti di Universitas Komputer Indonesia (Unikom), Jalan Dipati Ukur Kota Bandung, Kamis 1 November 2018.

Mantan Pemimpin Redaksi Pikiran Rakyat itu mengatakan, dosen juga peneliti perguruan tinggi merupakan bagian dari golongan inteketual publik. Maksudnya, orang-orang yang mempunyai pengetahuan, juga menguasai isu aktual, mempunyai otoritas tentang satu topik, dan mempunyai kemampuan menyampaikannya kepada publik.

“Orang bisa saja mempunyai pengetahuan, tapi tidak punya otoritas. Misalnya saya punya saudara dokter, saya bisa mempunyai pengetahuan dari saudara saya ini tentang suatu penyakit. Tapi saya tidak punya otoritas untuk mengatakan hal itu kepada orang lain,” tuturnya.

Sayangnya, kata dia, saat ini banyak orang yang berbicara tanpa dibarengi kompetensi yang memadai. “Maka itu penting bagi para intelektual ini untuk menulis, untuk memerangi hoaks,” tuturnya.

Ia mengatakan, tingkat kepercayaan masyarakat kepada institusi kampus sampai saat ini masih tinggi. Publik masih percaya para intelektual di kampus bebas dari kepentingan politik jangka pendek. Oleh karena itu, para intelektual kampus didorong untuk bisa menyampaikan ide dan pendapatnya terkait bidang ilmunya melalui media massa.

Budhiana mengatakan, banyak tokoh-tokoh nasional yang berasal dari golongan intelektual yang mendapat perhatian besar setelah menulis di media massa. Sebut saja Menteri Keuangan Sri Mulyani, Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi Mahfud MD, Wali Kota Bogor Bima Arya, pakar ekonomi Faisal Basri, Kepala Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) Thomas Djamaluddin, dan lainnya. “Mereka bisa dikenal kapasitas intelektualnya pertama kali lewat tulisan-tulisannya di media,” tuturnya.

Rektor Unikom Eddy Soeryanto Soegoto berharap dosen-dosen di kampus yang dipimpinnya bisa menulis di Pikiran Rakyat sesuai dengan bidang keilmuannya. “Setelah pelatihan ini, saya berharap bisa menularkan ilmu ini kepada teman-teman yang lain,” katanya.

Ia berharap, kegiatan ini tidak akan berhenti hanya di pelatihan selama dua hari itu saja. Tetapi juga dilanjutkan dengan pendampingan hingga para dosen bisa menjajal kemampuan menulis populernya.

Pelatihan menulis ini merupakan kerja sama antara Pikiran Rakyat Institut dan Unikom. Kepala PR Institut Yuni Dahlia Mogot menjelaskan, PR Institut merupakan lembaga bentukan PR yang mengkhususkan diri pada pelatihan dan edukasi. “Kami memberi pelayanan pelatihan, riset, pengolahan data, serta jurnalistik,” katanya.(pikiran-rakyat.com)

Comments are closed.