800true dots bottomright 100true false 800http://siapbelajar.com/wp-content/plugins/thethe-image-slider/style/skins/white-square-2
  • 10000 random false 60 bottom 30 http://kompasgramedia.com
    Kompas Gramedia 
  • 10000 random false 60 bottom 30 http://kompas.com
    Kompas.com 
  • 10000 random false 60 bottom 30 http://kompas.tv
    Kompas TV 
  • 10000 random false 60 bottom 30
    Kabar Gapura
  • 10000 random false 60 bottom 30 http://gramediaonline.com
    Gramedia 
  • 10000 random false 60 bottom 30 http://kotabaruparahyangan.com
    Kota Baru Parahyangan 
  • 10000 random false 60 bottom 30
    Sonora
  • 10000 random false 60 bottom 30
    Raka FM
  • 10000 random false 60 bottom 30 http://www.telkom.co.id
    Telkom 
  • 10000 random false 60 bottom 30
    Slide12

Masalah yang Mengintai Penerapan Kurikulum 2013

Tuesday 30 April 2013 , 20:24 PM
(kemdiknas.go.id)

(kemdiknas.go.id)

RENCANA pergantian kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP) yang menjadi kurikulum 2013, masih menuai kontroversi. Pasalnya, masih banyak guru yang kurang memadai integritasnya dalam implementasi kurikulum 2013.
Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Lampung (Unila) Bujang Rahman menjelaskan, sekolah-sekolah pun disibukkan dengan kabar pergantian kurikulum ini. Padahal, peraturan resmi tentang hal itu belum ada.

“Ibarat bayi, belum lahir tapi sudah beli ayunan,” kata Bujang, seperti dikutip dari laman Unila, Selasa (30/4/2013).

Bujang menilai, penerapan kurikulum 2013 harus diawali dengan perbaikan atas berbagai permasalahan pendidikan. Dengan demikian, target kurikulum 2013 bisa dicapai secara optimal. Salah satunya, menyesuaikan perubahan dalam kurikulum dengan kemampuan guru mengajar. Padahal, kata Bujang, konsep kurikulum 2013 sebenarnya bagus.

“Tetapi, kondisi sumber daya manusia (SDM) guru yang belum mumpuni, ditambah infrastruktur yang tidak memadai membuat tujuan kurikulum 2013 ini sulit tercapai,” imbuhnya.

Dia mengimbuh, saat ini saja, dari sekira tiga juta guru di Indonesia, baru sekira 51 persennya memenuhi kualifikasi minimal sebagai guru. Idealnya, untuk menjadi guru, seseorang harus berpendidikan minimal S-1. Kemudian, hanya 44 persen guru yang sudah golongan IV/a.

“Kondisi ini menunjukkan 56 persen guru belum pernah membuat karya ilmiah. Padahal,  guru seharusnya bisa menghasilkan karya-karya ilmiah yang dihasilkan melalui penelitian,” tuturnya.

Masalah lain dalam rencana implementasi kurikulum 2013 adalah masih banyaknya ruang kelas yang rusak di Tanah Air. Pemerintah, kata Bujang, perlu memerhatikan infrastruktur pendidikan agar para siswa bisa nyaman belajar.

Selain itu, penerapan kurikulum 2013 juga membuat sekolah harus membiasakan diri untuk memberikan ruang gerak yang luas supaya siswa bisa mengembangkan diri dan berinovasi, termasuk mengubah pola ujian objektif menggunakan bentuk soal pilihan ganda.(kampus.okezone.com)