800true dots bottomright 100true false 800http://siapbelajar.com/wp-content/plugins/thethe-image-slider/style/skins/white-square-2
  • 10000 random false 60 bottom 30 http://kompasgramedia.com
    Kompas Gramedia 
  • 10000 random false 60 bottom 30 http://kompas.com
    Kompas.com 
  • 10000 random false 60 bottom 30 http://kompas.tv
    Kompas TV 
  • 10000 random false 60 bottom 30
    Kabar Gapura
  • 10000 random false 60 bottom 30 http://gramediaonline.com
    Gramedia 
  • 10000 random false 60 bottom 30 http://kotabaruparahyangan.com
    Kota Baru Parahyangan 
  • 10000 random false 60 bottom 30
    Sonora
  • 10000 random false 60 bottom 30
    Raka FM
  • 10000 random false 60 bottom 30 http://www.telkom.co.id
    Telkom 
  • 10000 random false 60 bottom 30
    Slide12

Mahasiswa UGM Olah Kembang Sepatu Jadi Makanan Bergizi

Saturday 08 June 2013 , 11:37 AM
Ilustrasi

Ilustrasi

KELOMPOK mahasiswa Universitas Gadjah Mada Yogyakarta menjadikan kembang sepatu sebagai pilihan bahan baku utama untuk olahan produk makanan bergizi, seperti puding, permen jelly, dan “cookies” atau kue kering.
“Kandungan senyawa antioksidan, vitamin C, dan mineral dalam mahkota kembang sepatu (hibiscus rosa sinensis L) menjadi alasan kami memilih bunga tersebut sebagai bahan olahan makanan,” kata koordinator kelompok Venni Winta Pratiwi di Yogyakarta, Kamis.

Menurut dia, kandungan antioksidan polifenol, flavonoid, vitamin C, dan mineral berfungsi untuk mengobati flu dan demam serta menjaga daya tahan tubuh dan memperlancar pencernaan.

“Bunga tersebut hanya diambil mahkotanya kemudian diblender untuk dijadikan tambahan adonan membuat ‘cookies’. Untuk membuat satu kilogram adonan dibutuhkan seperempat bunga kembang sepatu,” katanya.

Ia mengatakan, selama dua bulan, olahan produk makanan kembang sepatu yang dinamakan “Bang Sulam” itu telah terjual 850 “cookies”, 354 puding, dan 397 permen.

“Satu produk ‘cookies’ seberat setengah kilogram dijual dengan harga Rp14 ribu, satu puding Rp1.500, dan satu permen Rp1.500. Omzet kami selama dua bulan mencapai Rp3,5 juta dengan keuntungan bersih Rp1,6 juta,” katanya.

Menurut dia, bahan baku kembang sepatu didapatkan dari pekarangan warga Dusun Randu, Desa Hargobinangun, Kecamatan Pakem, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).

“Satu kilogram kembang sepatu yang masih segar kami beli dengan harga Rp7.500. Bunga yang bentuknya mirip terompet itu biasa dijadikan tanaman hias di pekarangan rumah karena indah dipandang saat mekar,” katanya.

Anggota kelompok mahasiswa yang mengolah kembang sepatu menjadi makanan itu adalah Dita Hanna, Abigail Christine, Rizqi Mahanani, dan Masmur Kristi Pamuji.(republika.co.id)