Lulusan SMK Berpeluang Lebih Besar Miliki Sertifikasi Internasional

Monday 09 April 2018 , 7:51 AM

Ilustrasi (Pendidikan Vokasi)

PELUANG lulusan SMK lebih besar bila memiliki sertifikasi internasional. Sertifikat tersebut akan diterima oleh perusahaan di luar negeri sehingga lulusan sekolah vokasional dapat memenangkan persaingan di luar negeri.

Kemudahan itu dibuktikan dengan banyaknya calon lulusan SMK melanjutkan pendidikan diploma ke Australia. Jurusan multimedia, hospitaliti, dan bisnis administrasi menjadi favorit pilihannya.

“Ketertarikan calon lulusan SMK itu disebabkan kemudahan bekerja di perusahaan global setelah lulus kuliah diploma. Selain itu masa kuliahnya cukup pendek,” ujar Founder Bluesky Immigration and Students Consultancy (BISC) Ginanjar Hadiman seusai meresmikan pembukaan BISC di Jalan Halimun, Minggu, 8 April 2018. Hadir juga, CEO BISC Australia Shayaz Khan dan Deddy Mizwar.

Bluesky Immigration and Students Consultancy (BISC) adalah agency terkemuka yang memberikan layanan imigrasi dan konsultasi belajar di Australia. BISC melalui anak perusahaan dan afiliasinya tersebar luas di Singapore, Malaysia, Thailand, China, India, Pakistan, Nepal, Bangladesh, Uzbekistan, Phillipines, dan Indonesia.

Dalam pembukaan BISC, diselenggarakan jugaseminar sehari berjudul Cara Mudah Meraih Pendidikan di Luar Negeri tersebut menampilkan pembicara dari Australia, Malaysia dan Indonesia. Peserta yang mayoritas guru-guru bahasa inggris yang tergabung dalam Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) bahasa inggris SMU/SMK se Jawa Barat terlihat sangat antusias mengikuti penjelasan yang disampaikan dalam bentuk talkshow tersebut.

Ginanjar menyebutkan pihaknya bekerja sama dengan banyak perguruan tinggi di Australia. Pendidikan diploma di Australia tidak memiliki tahun ajaran semester untuk pendaftaran. Siswa bisa mendaftar bulan apa pun.

Untuk pembelajaran pun didominasi dengan praktik untuk sekolah vokasional. Namun, siswa pendidikan diploma akan memiliki banyak waktu luang.

“Karena pembelajaran hanya 2 hari dalam sepekan, sisanya siswa bisa mengisi waktu dengan bekerja paruh waktu sesuai ketentuan,” ujarnya.

Kemampuan bahasa asing

Ginanjar mengatakan calon siswa yang akan belajar ke luar negeri sering kali belum memiliki kemampuan yang berbahasa Inggris secara aktif. Hal itu akan menganggu proses pembelajaran selama di luar negeri.

“Beberapa agen tetap memberangkatkan, tapi menjadi beban bagi siswa selama di sana. Tidak sedikit saya menemukan siswa yang terpaksa drop out, karena kurang menguasai bahasa Inggris,” ujarnya.

Ginanjar mengatakan setiap agen yang memberangkatkan seharusnya memberikan pelatihan kepada calon siswa beberapa bulan sebelum keberangkatan. Dengan demikian, siswa dapat dengan mudah beradaptasi.

Sementara itu, Wakil Gubernur Jabar nonaktif yang kini menjadi salah satu calon gubernur Jabar Deddy Mizwar menyebutkan persaingan pendidikan tinggi di Jabar cukup tinggi. Hal itu mengingat, banyaknya perguruan tinggi di Jabar.

Deddy menyebutkan warga Jabar harus memenangkan persaingan tersebut. Menurut Deddy, persoalan pendidikan harus difokuskan pada pendidikan anak usia dini, pemerataan akses pendidikan, dan kemudahan akses pendidikan.(pikiran-rakyat.com)

Comments are closed.