Lewat Program KKN, 700 Perguruan Tinggi Kerahkan Mahasiswa Benahi Sungai Citarum

Sunday 11 November 2018 , 6:13 AM

Ilustrasi (kimochiku.blogspot.com)

SEBANYAK 700 perguruan tinggi di Jawa Barat dan DKI Jakarta mendeklarasikan Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik Program Citarum Harum 2019. Penanganan permasalahan Sungai Citarum memerlukan keterlibatan aktif dari unsur pentahelix yang terdiri dari pemerintah, akademisi, asosiasi, komunitas, dan media. Diharapkan dengan adanya sinergitas unsur pentahelix ini mampu mempercepat perubahan Sungai Citarum menjadi lebih baik.

Penandatanganan deklarasi KKN Tematik itu disaksikan langsung Direktorat Jenderal Pembelajaran dan Kemahasiswaan pada Kemenristekdikti Intan Ahmad dalam Seminar Nasional Get Citarum Harum 2 Gebyar Edukasi Reduce, Reuse, Recycle KKN Tematik Citarum Harum yang digelar di Soreang, Sabtu 10 November 2018. Dalam seminar nasional itu, digelar juga lelang bibit kopi sebagai upaya reboisasi lahan kritis di kawasan hulu Sungai Citarum.

Dalam deklarasi tersebut dihadiri pula di antaranya Deputi IV Bidang IPTEK, SDM, dan Budaya pada Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman Syafri Burhanudin yang sekaligus membuka seminar nasional tersebut. Selain itu, hadir pula Sekretaris Dirjen Pembelajaran dan Kemahasiswaan Kemenristekdikti Rina Indiastuti, Direktur Pembelajaran pada Kemenristekdikti Paristiyanti Nurwardhani, Pemerintah Provinsi Jawa Barat, dan para rektor/perwakilan perguruan tinggi di Jawa Barat dan DKI Jakarta. Dari unsur media, Harian Umum Pikiran Rakyat menjadi media yang terpilih Kemenristekdikti dalam Pentahelix Citarum Harum.

Dirjen Belmawa Intan Ahmad mengatakan, KKN Tematik ini dilakukan dalam mendukung implementasi Peraturan Presiden nomor 15/2018 tentang percepatan pengendalian pencemaran dan kerusakan DAS Citarum yang ditandatangani Presiden Joko Widodo. KKN Tematik ini dikoordinir Direktur Pembelajaran pada Belmawa Kemenristekdikti.

“Di Jawa Barat dan DKI Jakarta ada sekitar 700 perguruan tinggi dengan jumlah mahasiswa lebih dari satu juta orang. KKN ini nantinya akan dilakukan sepanjang tahun dan dilakukan secara bergantian di daerah hulu, tengah, dan hilir DAS Citarum. Nantinya bagaimana mahasiswa melakukan pendampingan kepada masyarakat tentang pengolahan sampah rumah tangga termasuk mengubah kebiasaan masyarakat yang kurang baik dalam merawat lingkungan,” ungkap Intan Ahmad.

Pihaknya mengapresiasi ke berbagai perguruan tinggi yang sangat berantusias membantu dalam KKN Tematik ini. Masih dikatakan dia, penanganan Sungai Citarum ini merupakan pekerjaan lintas kementerian, terutama dikoordinir Kementerian Kemaritiman. “KKN Tematik ini disesuaikan dengan permasalahan yang ada. Saya juga mengapresiasi kegiatan deklarasi KKN Tematik yang saat ini digelar atas bantuan dari UPI,” kata dia.

Sekretaris Dirjen Belmawa Kemenristekdikti Rina Indiastuti mengatakan, dalam program Citarum Harum ini Menristekdikti RI M. Nasir telah berkomitmen untuk berkontribusi hasil IPTEK yang bisa mempercepat program tersebut.  “Untuk Direktorat Pembelajaran dan Kemahasiswaan ada unsur mahasiswanya yang diminta untuk turut berpartisipasi melalui KKN Tematik,” kata dia.

Diharapkan ke depannya, melalui KKN Tematik ini memberikan soft skill melalui upaya edukasi kepada masyarakat untuk emmelihara kebersihan Sungai Citarum. Dalam hal ini, lanjut dia, melalui KKN Tematik ini mahasiswa mempunyai kepedulian terhadap lingkungan, mampu mengajak masyarakat dalam merawat lingkungan, dan turut menjadi agen perubahan untuk mewujudkan lingkungan yang lebih lestari.

Keterlibatan Media Massa dan Komunitas

Sementara itu, Direktur Pembelajaran Belmawa Paristiyanti Nurwardhani mengatakan, keterlibatan unsur media massa dalam perwujudan percepatan penanganan Citarum Harum juga diperlukan melalui komponen pentahelix. Dengan adanya jalinan koordinasi dengan media massa ini, lanjut Paristiyani, diharapkan mampu melahirkan sebuah masterplan program kerja dalam program nasional ini.

Disinggung mengenai hasil penelitian permasalahan di DAS Citarum, dikatakan Paristiyani, persoalan di daerah hulu Sungai Citarum yakni lahan gundul. Pihaknya pun memberikan dorongan kepada ITB, IPB, dan Unpad untuk melakukan penelitian mendalam mengenai penyebab longsor dan gundulnya area hutan di hulu Sungai Citarum.

“Untuk kawasan hulu, itu memerlukan 125 juta bibit pohon untuk mereboisasi lahan gundul. Solusinya untuk menggantikan tanaman sayuran sayuran yang membuat tanah longsor, itu melalui pohon kopi. Nantinya, pohon kopi ini mempunyai nilai ekonomis bagi masyarakat,” ujar dia.

Kemudian, untuk di kawasan tengah DAS Citarum, permasalahan yang dihadapi yaitu pencemaran limbah industri. Sedangkan untuk kawasan hilir, permasalahan yang dihadapi yaitu kesehatan, khususnya stunting atau pengerdilan yang diduga karena adanya akumulasi racun limbah dari Sungai Citarum.

Sementara itu Deputi IV Bidang IPTEK, SDM, dan Budaya pada Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman Syafri Burhanudin mengatakan, saat ini penanganan pengendalian Sungai Citarum berjalan dengan lancar dan baik. Secara umum, lanjut dia, kondisi Sungai Citarum yang semula tercemar berat, saat ini sudah menunjukkan perbaikan yang cukup membanggakan. Penyajian data mengenai penelitian Sungai Citarum harus dilakukan secara berkala.

“Memang Sungai Citarum itu adalah salah satu sungai terpolusi. Kita harapkan tahun 2018 sudah berubah. Namun, secara umum ada tantangan kita dari hulu, tengah, dan hilir. Penanganan masalah itu tidak bisa diselesaikan hanya dengan unsur birokrasi, melainkan melibatkan semua kalangan. Diharapkan, dengan keterlibatan semua pihak ini mampu mempercepat perwujudan Citarum Harum,” ucap dia.(pikiran-rakyat.com)

Comments are closed.