Kualitas Pendidikan Tinggi Diklaim Berubah Positif

Wednesday 09 May 2018 , 7:40 AM

Ilustrasi (kimochiku.blogspot.com)

DIREKTUR  Jenderal Sumber Daya Iptek dan Dikti Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) Prof Ali Ghufron Mukti mengklaim, kualitas pendidikan tinggi di Indonesia sudah mengarah pada perubahan yang positif. Meski begitu dia mengakui, grafik peningkatannya belum terlalu tinggi.

“Jelas ada perubahan, tapi tidak seperti tingginya besaran anggaran. Makanya betul sekali saya pikir, tidak cukup hanya bicara kenaikan anggaran, tapi bagaimana memanfaatkan anggaran pendidikan yang ada secara efektif dan efisien,” kata Ghufron kepada Republika, Selasa (8/5).

Dia mengatakan, anggaran pendidikan yang dialokasikan APBN tahun ini memang sangat banyak yakni Rp 444 triliun. Kendati demikian, Ghufron meminta agar semua pihak jangan salah persepsi atau berpikiran bahwa dana tersebut semuanya digunakan untuk pendidikan tinggi.

Ghufron menerangkan, dari total Rp 444 triliun anggaran pendidikan, yang dialokasikan untuk pendidikan tinggi hanya sekitar Rp 40 triliun saja. Sisanya, lanjut dia, digunakan untuk membiayai beberapa kementerian juga yang menaungi bidang pendidikan, seperti Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, serta Kementerian Agama.

“Dan jauh lebih banyak itu anggaran pendidikan yang di transferkan ke daerah, itu mencapai ratusan triliun,” kata Ghufron.

Menurut dia, saat ini pemerintah telah fokus pada peningkatan mutu output dari berbagai lini pendidikan. Seperti output riset, output lulusan perguruan tinggi, dan lain-lain. Bahkan, lanjut Ghuron, pemerintah juga telah menyederhanakan hal-hal administrasi yang selama ini seringkali dinilai menyulitkan.

“Jadi bu Menteri Keuangan juga bilang akan buat pengadministrasian keuangan di perguruan tinggi itu simple tapi tetap bertanggung jawab. Pokoknya kita buat system yang bagus lalu berbasis output,” kata dia.

Sementara itu, sebelumnya Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani mengatakan, anggaran pendidikan yang saat ini mencapai Rp444 triliun dinilai belum berhasil menghasilkan output yang bagus dan berkualitas. Terbukti, jelas dia, Programme for International Student Assessment (PISA) Indonesia masih berada di posisi rendah.

“Tantangan yang dihadapi dunia pendidikan di Indonesia bukan lagi soal anggaran. Karena anggaran pendidikan kita sudah sangat besar, tapi tugas kita sekarang, bagaimana mengelola anggaran tersebut,” kata Sri Mulyani di Gedung Kemenristekdikti, Jakarta, Senin (7/5).(republika.co.id)

Comments are closed.