Kemenristekdikti Sediakan Beasiswa S2 di Inggris untuk Kalangan Kurang Mampu

Monday 08 January 2018 , 10:01 AM

Ilustrasi

MAHASISWA  berprestasi dari keluarga kurang mampu dengan IPK minimal 3,5 berpeluang melanjutkan kuliah S-2 ke Inggris. Direktorat Jenderal Sumber Daya Iptek dan Dikti (SDID) Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi akan mulai melakukan seleksi kandidat penerima beasiswa senilai 10.000 pounsterling tersebut pada Maret-April 2018. Penerima beasiswa akan memulai studi di Conventry University (CU) pada September tahun ini.

Dirjen SDID Kemenristekdikti, Ali Ghufron Mukti menuturkan, CU-SDID Scholarship tidak mengenal batas usia. Kendati demikian, para kandidat harus mengantongi nilai IELTS minimal 6,5 atau TOEFL 550 poin. Beasiswa tersebut diutamakan untuk jurusan kesehatan.

“Jika ada kandidat yang potensial namun terkendala persyaratan kemampuan bahasa asing, kami memfasilitasi kursus bahasa Inggris melalui bridging program,” kata Ghufron di Kantor Kemenristekdikti Senayan, Jakarta.

Ia mengatakan, yang membedakan CU-SDID Scholarship dengan beasiswa studi lainnya adalah calon penerima harus dari kalangan tidak mampu. Kemenristekdikti juga memfasilitasi untuk jurusan di luar kesehatan. “Kursus penguatan bahasa Inggris selama kurang lebih tiga bulan. Mungkin penerima bidikmisi atau AdiK Papua bisa berkesempatan mengikuti beasiswa ini, ” ucapnya.

Ghufron berharap, setelah lulus, para penerima CU-SDID Scholarship mampu berkontribusi seperti membuat draft Sustainable Development Goals (SDGs) atau berkiprah di World Health Organization (WHO). Ia menyatakan, jika berhasil dengan beasiswa pascasarjana, CU juga siap memberikan beasiswa untuk jenjang Doktor.

“Kami juga akan mengupayakan menyediakan 9-10 beasiswa PhD di Inggris. Selain itu, juga terdapat sejumlah beasiswa yang masih on going, seperti dari AMINEF, PMDSU, serta beasiswa untuk dosen di perguruan tinggi negeri baru (PTNB),” sebut Ghufron.

Menambah pakar

Ia menjelaskan, beasiswa ini untuk membantu peningkatan jumlah pakar di bidang jaminan kesehatan. Sebagai salah satu tokoh yang berperan mengembangkan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan di Indonesia. Para penerima wajib berkarier di Indonesia ketika sudah menuntaskan studinya.

Executive Dean of the Faculty of Health and Life Sciences, Guy Daly menambahkan, seleksi CU-SDID Scholarship dilakukan melalui dua proses. Pertama, yakni memberikan kelonggaran kepada pihak Ditjen SDID untuk menyeleksi kandidat potensial berdasarkan syarat yang ditentukan. Seleksi kedua dilakukan oleh pihak Coventry University, sesuai dengan standar akademik kampus.

“Prof Ghufron sudah mendapat gelar Doktor Kehormatan dari Coventry University lantaran kami ingin mengakui kiprah beliau dalam menyediakan pelayanan kesehatan untuk semua orang. Hal ini sesuai dengan misi Coventry University untuk melahirkan pakar jaminan kesehatan di masa depan,” kata Guy.

Direktur Kepatuhan Hukum dan Hubungan Antar Lembaga BPJS Kesehatan Bayu Wahyudi menyambut baik kerja sama tersebut. Menurut dia, dengan kapabilitas para lulusannya nanti, akan menjadi aset bagi bangsa Indonesia dalam upaya memberikan pelayanan kesehatan yang optimal.

“Prinsipnya adalah meningkatkan learning individual, meingkatkan kapasitas dan kapabilitas. Dengan era keterbukaan dan transformasi, tentu kalau orang yang memiliki kapabilitas dapat mengakses itu. Tidak sempit harus bekerja di instansi pemerintah. Apalagi dengan networking di negara maju seperti Inggris mereka saya harap punya akses memajukan kesehatan di Indonesia,” ujar Bayu.(pikiran-rakyat.com)

Comments are closed.