Ini 8 Kunci Sukses Menjadi Guru

Friday 10 August 2018 , 8:57 AM

 

Ilustrasi.(prioritaspendidikan.org)

MENGAWALI  tahun pelajaran 2018/2019, Pengurus Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Kabupaten Bogor menggelar pelatihan untuk guru.

Acara yang dipusatkan di Aula PGRI Cabang Bogor, Jalan Pangeran Asogiri, Tanah Baru, Bogor, Jawa Barat, ini mengambil tajuk, “Membangun Etos Kerja dan Profesionalisme Berbasis Quantum Learning” dengan menampilkan narasumber tunggal H  Asep Mahfudin dari Rumah Karakter Indonesia, Rabu (8/8).

Setelah dibuka secara resmi oleh Ketua PGRI Kabupaten Bogor, Dadang Suntana, panitia mendaulat Asep Mahfudin mengisi materi. Pria kelahiran Cimahi, Bandung, 4 April 1978 ini, langsung melakukan penyegaran dan memecah kebekuan suasana melalui tepuk dan gerak untuk melatih konsentrasi.

Kegiatan dibagi menjadi dua sesi. Sesi pertama, membangun etos kerja dan profesionalisme. Sedangkan, sesi kedua etos kerja dalam bingkai quantum learning.

Dosen UIN Sunan Gunung Djati Bandung ini mengatakan, guru sebagai ujung tombak pendidikan di Indonesia harus memiliki etos kerja yang tinggi. ‘’Kunci guru excellent atau etos personal dikembangkan di quantum learning. Supaya guru-guru dalam mengajar, berperilaku, dan bersikap harus berpijak pada delapan kunci,’’ katanya menjelaskan dalam siaran pers yang diterima Republika.co.id, Rabu (8/8).

Kemudian, pria yang sudah menelurkan enam judul buku ini memberikan delapan kunci bagi guru yang unggul. Pertama, memiliki integritas. “Jadi, guru yang hebat dan istimewa itu guru yang memiliki integritas. Apa yang dia pikirkan, apa yang dia lakukan, sesuai,’’ terangnya.

Kedua, guru hebat itu selalu memaknai apa yang terjadi dalam hidupnya (failure lead to successRed). Setiap mengalami kegagalan,  selalu bangkit dan bangkit lagi. ‘’Nah, kalau guru punya sikap seperti itu sangat luar biasa.’’

Ketiga, guru hebat bicaranya selalu positif. Muncul dari situ dia selalu bicara memotivasi dan menginsiprasi.

Keempat, this is it. Maksudnya dia punya apa pun kebaikan, pikiran yang baik, sikap yang baik, langsung dia lakukan saat itu.

“Kelima, memiliki komitmen, dia harus berkomitmen dalam segala hal, terutama bagaimana membangun anak-anak yang cerdas,” tuturnya.

Keenam, ownership.  Guru harus punya tanggung jawab yang tinggi karena dia membawa nama besar guru.

Ketujuh, fleksibel dalam segala hal setiap pembelajaran. ‘’Dia tidak kaku. Dia harus memiliki banyak metodologi pembelajaran sehingga anak-anak senang, anak-anak berproses sesuai zamannya. Maka itu, guru harus banyak belajar tentang teknologi saat ini,’’ pintanya.

Kedelapan, balance. Harus seimbang. ‘’Jadi, sibuk di sekolah juga harus ingat di rumah. Dia sibuk di organisasi, tapi juga harus ada waktu buat keluarga. Seimbang bukan hanya otak kiri, tapi otak kanan juga,’’ paparnya.

Ketua Panitia Barkeh Dimyati mengatakan, kegiatan ini diikuti 190 peserta utusan dari 40 kecamatan se-Kabupaten Bogor. Selain dihadiri Ketua PGRI Cabang Kabupaten Bogor, Dadang Suntana, juga hadir Kepala Sekolah SD, SMP, SMA, IGTK, Himpaudi dan pengawas sekolah.

‘’Alhamdulillah, peserta sangat antusias. Buktinya sampai sore mereka menikmati acara dan tidak tampak lelah. Ini membuktikan mereka sangat antusias dan tertarik dengan materi yang disajikan,’’ ucapnya penuh syukur.(republika.co.id)

Comments are closed.