Guru Harus Cepat Beradaptasi dengan Dinamika Kemajuan Teknologi

Friday 04 May 2018 , 10:50 AM

Buku besar yang digunakan guru sebagai media pembelajaran mempelajari benda yang mudah bergerak dan tidak mudah bergerak.(prioritaspendidikan.org)

MENTERI Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy mengajak masyarakat terutama guru dan tenaga kependidikan untuk mulai menyesuaikan diri dengan kemajuan teknologi yang begitu cepat dan dinamis. Pasalnya, teknologi berpengaruh besar dalam mengubah tatanan sosial dan pendidikan. Datangnya era Revolusi Industri 4.0 menuntut guru untuk terus belajar dan beradaptasi dengan perubahan.

Muhadjir menegaskan, era Revolusi Industri 4.0 bertumpu pada cyber-physical system. Dengan demikian, para pelaku pendidikan dan kebudayaan harus siap dengan agenda reformasi sekolah yang sedang diterapkan pemerintah. Reformasi tersebut di antaranya dengan melakukan peningkatan kapasitas dan kompetensi guru, penerapan kurikulum pendidikan yang dinamis dan membangun sarana dan prasarana sekolah.

“Profesionalisme guru terus diperbaiki, sarana dan prasarana yang andal terus dibangun serta teknologi pembelajaran yang muktakhir menjadi keniscayaan pendidikan nasional,” ucap Muhadjir dalam upacara perayaan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) di Halaman Kantor Kemendikbud, Jakarta, Rabu 2 Mei 2018.

Muhadjir menegaskan, penguatan pendidikan juga harus dibarengi dengan memajukan sektor kebudayaan. Menurut dia, kebudayaan akan menjadi ruh dalam menyelenggarakan pendidikan nasional yang sesuai dengan kebutuhan bangsa Indonesia. “Kami yakin bahwa kebudayaan yang maju akan membuat pendidikan kuat. Begitu pula sebaliknya, jika pendidikan kita subur dan rindang, akar kebudayaan akan lebih menghujam kian dalam di tanah tumpah darah Indonesia,” ujarnya.

Muhadjir menyatakan, guru, orang tua, dan masyarakat harus menjadi sumber kekuatan untuk memperbaiki kinerja dunia pendidikan dan kebudayaan dalam menumbuhkembangkan karakter dan literasi anak Indonesia. Hal tersebut bisa terwujud jika nilai-nilai religius, kejujuran, kerja keras, dan gotong royong terawat dengan baik.

Sekolah Ramah Anak

Dalam peringatan Hardiknas tahun ini, Komisi Perlindungan Anak Indonesia berharap Kemendikbud mulai menguatkan program sekolah ramah anak yang gagasannya sudah sering dibicarakan di lintas kementerian/lembaga. Komisioner Bidang Pendidikan KPAI Retno Listyarti menyatakan, pemerintah harus mampu menciptakan sekolah aman dan nyaman bagi warga sekolah.

“Percepatan sekolah ramah anak harus dilakukan seluruh kementerian/embaga terkait demi kepentingan terbaik bagi anak. Program sekolah ramah anak selama ini hanya dipahami sebatas sekolah aman dari kekerasan, padahal sekolah ramah anak sesungguhnya adalah sekolah yang aman, nyaman dan bermartabat untuk mengantarkan anak-anak Indonesia yang berkualitas menjadi generasi penerus bangsa yang handal,” ujar Retno.

Retno menegaskan, sekolah ramah anak bukan sekadar nol kekerasan, tetapi juga sekolah sehat. Menurut dia, sekolah yang mengikrarkan diri sebagai sekolah ramah anak wajib menciptakan lingkungan sekolah yang aman secara fisik, asri dan hijau. Selain itu, juga memiliki jalur evakuasi bencana, bebas asap rokok, bebas narkoba, dan memiliki nomor pengaduan jika siswa mengalami kekerasan dan ketidaknyamanan lain saat berada di sekolah.

“Program sekolah ramah anak selama ini diartikan keliru, seolah hanya untuk kepentingan anak,  padahal kondisi sekolah yang aman, nyaman, asri, sehat dan nir kekerasan adalah situasi dan kondisi yang yang akan berdampak positif bagi seluruh warga sekolah, termasuk kepala sekolah, guru dan petugas sekolah lainnya,” kata Retno.(pikiran-rakyat.com)

 

Comments are closed.