Dalam Sistem Baru SBMPTN, Tidak Ada Tes Keterampilan

Saturday 27 October 2018 , 8:02 AM

Logo SBMPTN

LEMBAGA  Tes Masuk Perguruan Tinggi Negeri atau LTMPTN menghapus tes keterampilan pada SBMPTN (Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri) 2019 jurusan Seni dan Keolahragaan.

Kendati demikian, calon mahasiswa wajib menyertakan portofolio prestasi atau penghargaan yang sesuai dengan jurusan yang akan dilamar.

Ketua LTMPTN Ravik Karsidi mengatakan, penghapusan tes keterampilan merupakan bagian dari kebijakan baru yang diterapkan pada seleksi masuk PTN 2019.

Ia mengimbau, pendaftar mulai menyiapkan segala dokumen, baik berupa piagam, sertifikat meskipun belum lulus sekolah.

“Yang dulu terdiri atas tes seni dan olah raga, diganti sistem portofolio. Sama seperti pada SNMPTN (Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri). Nanti UTBK (Ujian Tulis Berbasis Komputer) juga. Portofolio penting karena untuk menguji bakat tidak dapat diukur hanya dengan hasil UTBK,” kata Ravik Karsidi di Jakarta, Kamis 24 Oktober 2018.

Pada seleksi penerimaan mahasiswa baru 2018, tes keterampilan manjadi ujian tambahan setelah peserta melakukan ujian tertulis SBMPTN. Prodi yang mewajibkan tes keterampilan di antaranya Seni Rupa, Desain Komunikasi Visual, dan Ilmu Keolahragaan.

“Tahun depan tidak perlu (tes keterampilan) lagi,” ujarnya.

Sebelumnya, Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi memastikan tes SBMPTN hanya menggunakan UTBK.

Kemenristekdikti juga menambah 10% kuota SBMPTN menjadi minimal 40%. Untuk kuota SNMPTN dikurangi 10% menjadi minimal 20% sedangkan untuk jalur mandiri tetap maksimal 30%.

Selain pengubahan formasi kuota, Kemenristekdikti juga tak akan menggelar tes SBMPTN secara serentak di masing-masing kampus tujuan calon mahasiswa.

Siswa yang ingin kuliah harus mengikuti ujian yang diselenggarakan LTMPT. Siswa yang belum lulus SMA/SMK sederajat sudah bisa mengikuti tes yang dijadwalkan digelar Maret-Juni 2019.

Sistem baru lebih adil

Menyikapi perubahan tersebut, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy menilai sistem baru pada seleksi penerimaan mahasiswa baru lebih adil. Pasalnya, persaingan masuk PTN akan lebih merata, tak terganjal domisili siswa.

Menurut dia, pengurangan kuota untuk SNMPTN juga sejalan dengan sistem zonasi yang diterapkan Kemendikbud dalam merekrut peserta didik baru.

“Saya sambut baik kebijakan penerimaan mahasiswa baru dari Kemenristekdikti yang mulai mengurangi jalur undangan (SNMPTN) yang biasanya dulu itu adalah hak istimewa untuk sekolah tertentu,” kata Muhadjir.

Ia berharap, seleksi penerimaan mahasiswa baru bisa menghapus keistimewaan suatu sekolah tertentu. Ia mendorong daya tampung SNMPTN per sekolah yang selama ini berbasis akreditas dihapuskan.

“Saya minta untuk memang dihapus (kebijakan) menunjuk sekolah tertentu untuk dapat jatah tertentu (dalam seleksi penerimaan mahasiswa baru),” ujarnya.

Ia menilai, kuota SNMPTN yang selama ini berbasis akreditasi sekolah berdampak pada lahirnya kastanisasi antersekolah.

Hal tersebut kontraproduktif dengan kebijakan zonasi yang bertujuan membangun pemerataan kualitas pendidikan dasar dan menengah.

“Akreditasi itu akhirnya mendorong sekolah tertentu diperebutkan dengan harapan dapat panggilan undangan itu dari PTN itu,” katanya.(pikiran-rakyat.com)

Comments are closed.