Kemendikbud: Literasi Digital Siswa Harus Diperkuat

Friday 12 October 2018 , 7:57 AM

SDN Pasirjeungjing Cigalontang, Kabupaten Tasikmalaya, punya cara lain dalam menumbuhkan budaya baca di masyarakat. Mereka membuat agen membaca yang diperankan para siswa.( Asop Ahmad/Siap Belajar)

MENYIAPKAN  anak agar siap menghadapi era revolusi industri, tidak cukup sekedar pengadaan tablet atau pengadaan komputer di sekolah. Karena yang lebih penting yaitu penguatan literasi digital kepada siswa.

Staf Ahli Bidang Inovasi dan Daya Saing Kemendikbud Ananto Kusuma Seta mengatakan, literasi digital yang dibutuhkan siswa yaitu human skill. Yaitu bagaimana adab siswa dalam menggunakan media sosial, mengasah critical thinking anak, emotional inteligent, sosial inteligent serta menanamkan nilai-nilai.

“Kalifornia gagal total, Meksiko gagal total dengan program one children one tablet nya. Karena ya bukan itu yang dibutuhkan untuk 4.0 lebih pada value. Karena 4.0 sebentar lagi akan ganti 5.0, 6.0, 8.0. Akan selalu berubah, yang tidak akan berubah itu values,” jelas Ananto dalam Seminar TIK di Hotel Sultan Jakarta, Kamis (11/10).

Sehingga dia menyarankan, dalam praktek mata pelajaran Informatika nanti sebaiknya satu komputer digunakan oleh tiga sampai lima anak misalnya. Sehingga anak dididik untuk bersosialisasi dan juga mengasah team work.

“Harus satu laptop banyak anak, agar anak bersosialisasi. Ada team working. Kalau satu anak satu laptop, itu keliru maka anak akan menyendiri,” jelas Ananto.

Sementara itu Kepala Pusat Kurikulum dan Perbukuan (Puskurbuk) Kemendikbud Awalludin Tjalla mengatakan rencananya, mapel Informatika akan diterapkan untuk jenjang SMP dan SMA pada tahun ajaran 2019 mendatang. Dia mengaku, masih memiliki kendala terkait jumlah guru. Saat ini, total guru Informatika hanya 40 ribu dan guru yang tersertifikasi dan memiliki kompetensi linier hanya setengahnya atau 20 ribu guru saja.

“Jumlah itu (40 ribu guru) untuk SMP dan SMA, di satu sisi juga tidak ada penambahan guru baru,” ungkap Tjalla.

Merujuk pada laporan di lapangan, kata Tjalla, masih ada beberapa kendala lain seperti belum sinkronnya konten buku dan kompetensi dasar guru. Sehingga pihaknya masih perlu merumuskan strategi pembelajaran Informatika yang lebih kompatibel.

“Karena selembar informasi di buku oleg guru berkompetensi baik, bisa disampaikan (dieksplor) untuk bahan mengajar selama empat jam pelajaran. Tapi guru yang tidak kompeten seratus halaman saja bahkan belum cukup untuk sejam pelajaran,” kata dia.(republika.co.id)

Comments are closed.