Kenalkan Coding untuk Anak Lewat Kelas Mini

Friday 21 September 2018 , 7:35 AM

Kemampuan membuat coding.(republika.co.id)

SALAH  satu gerai di pameran teknologi dan inovasi Bekraf Habibie Festival, Kamis (20/9), dipenuhi anak-anak yang berkerumun di meja berisi komputer tablet yang dilengkapi keyboard eksternal. Coding Indonesia sengaja membuka kelas mini terdiri dari empat meja, masing-masing berisi empat tablet agar anak-anak tertarik mengenal coding.

Anak-anak di setiap meja ditemani seorang tutor untuk menjelaskan hal-hal yang perlu dilakukan agar objek yang dibuat bisa bergerak.

“Kami pakai cara anak-anak, jangan dibilang belajar matematika, tapi main komputer, main gim,” kata pendiri Codingcamp.id, Kurie Suditomo, saat ditemui di Bekraf Habibie Festival di JIExpo Kemayoran, Kamis (20/9).

Codingcamp.id membuka kelas belajar coding usia 9 hingga 15 tahun agar anak-anak yang berminat dapat mengetahui hal-hal di balik gim yang sering mereka mainkan.

Berdasarkan pengalaman Kurie sejak 2013, kebanyakan orang tua yang datang padanya khawatir mengenai kebiasaan anak-anak mereka bermain gim.

Kurie menegaskan belajar coding bukan terapi atau solusi untuk mengatasi hobi anak bermain gim, tapi menawarkan sudut pandang lain untuk mengenal bagaimana pembuatan gim yang mereka mainkan.

Di kelas coding, anak-anak memakai engine Scratch yang diperkenalkan Massachusetts Institute of Technology (MIT) dan diajarkan membedah gim, misalnya bagaimana karakter dapat bergerak.

Coding untuk anak-anak berbeda dengan yang diajarkan di perguruan tinggi. Kelas anak-anak ini mengandalkan program sederhana yang banyak memuat tampilan secara visual.

“Ini pendekatan matematika yang sangat anak-anak karena coding itu visual. Tujuannya, bukan untuk mencetak engineer, tapi, mengasah pola pikir,” kata Kurie.

Belajar coding, menurut dia, mengasah kemampuan berlogika anak-anak dalam memecahkan masalah sekaligus melatih kesabaran.

Dengan frekuensi belajar seminggu sekali, per sesi 90 menit, di tingkat pemula, anak-anak diharapkan dapat membuat gim sederhana selama periode tiga bulan belajar. Semakin tinggi usia belajar coding, target pun berbeda. Di usia SMP misalnya, anak-anak diharapkan memahami HTML dan dapat membuat website.

Codingcamp.id juga mengenalkan coding melalui kerja sama dengan sejumlah sekolah swasta di Jakarta, Bandung dan Yogyakarta.

Kurie memimpikan program edukasi ini di masa datang lebih banyak menjangkau anak-anak yang berasal dari kelas menengah ekonomi ke bawah karena dia meyakini belajar coding bukan hanya untuk orang-orang berduit.

Harapannya, jika anak-anak yang kurang beruntung bisa mengenal komputer, mereka akan memiliki kemampuan baru yang dapat digunakan untuk memperbaiki keadannya di masa depan.(republika.co.id)

Comments are closed.