Aksi SMAN 3 Cimahi, Tolak Kekerasan di Lingkungan Remaja!

Thursday 27 September 2018 , 13:32 PM

Ilustrasi

INSIDEN  pengeroyokan hingga terbunuhnya satu suporter, Haringga Sirila, saat pertandingan antara Persib Bandung kontra Persija Jakarta di Stadion Gelora Bandung Lautan Api (GBLA) Kota Bandung turut menyita perhatian warga SMAN 3 Cimahi. Cegah aksi kekerasan serupa di kalangan siswa, warga SMAN 3 Cimahi meminta semua pihak bisa melakukan antisipasi agar hal serupa tidak menimpa par pelajar.

Hal itu terungkap dalam Deklarasi Anti Kekerasan yang diikuti guru, siswa, dan orangtua siswa di SMAN 3 Cimahi Jalan Pesantren Kota Cimahi, Rabu 26 September 2018.

Semua sepakat tidak ada ruang bagi kekerasan di sekolah tersebut, mereka bersemangat ketika mendeklarasikan aksi anti kekerasan tersebut sambil membawa poster bertuliskan tolak anti kekerasan di lingkungan remaja.

Kepala Sekolah SMAN 3 Kota Cimahi, Nelly Krisdiana, mengatakan, deklarasi tersebut untuk menghindari aksi kekerasan yang dilakukan para siswa baik di lingkungan sekolah maupun diluar sekolah.

“Kemarin terjadi kekerasan saat pertandingan sepak bola Persib Bandung dan Persija Jakarta. Kita ingin menghindari hal itu, entah siswa kita jadi korban ataupun pelaku karena kasus kemarin pelakunya ada yang dibawah umur juga,” ujarnya.

Selain kekerasan fisik, menurutnya, untuk di kalangan remaja termasuk para siswa SMA kerap terjadi kekerasan verbal seperti bullying yang menyebabkan korban trauma dan terpuruk.

Untuk itu, pihaknya akan menjaga para siswanya dari pengaruh kegiatan negatif karena usia mereka masih labil agar tidak terjerumus pada hal yang bisa merusak dan merugikan diri dan masa depannya.

“Ini yang menjadi target. Kebetulan sekolah juga diberikan kepercayaan oleh pemerintah sebagai sekolah model pendidikan keluarga,” ucapnya.

Dia juga ingin menumbuhkan rasa empati para siswa, jika melihat kejadian kekerasan harus berani beraksi mencegah dan melerai sehingga tidak terjadi korban. “Kejadian di GBLA membuat miris karena dari video yang beredar banyak orang melihat tapi tidak ada yang mencegah. Siswa kita harus berani menolong, karena kekerasan dampaknya negatif bagi semua orang,” ucapnya.

Semoga aksi tersebut bisa mencegah terjadinya kekerasan terhadap para pelajar baik di lingkungan sekolah, luar sekolah, hingga saat mereka sedang menjadi suporter sepakbola dan olahraga lainnya. “Karena terus terang para siswa ini banyak penggemar olahraga dan termasuk suporer fanatik juga,” katanya.

Sementara, salah satu orangtua siswa, R. Ajeng Indriasari (39),  mengaku sangat prihatin dengan adanya aksi kekerasan di kalangan remaja termasul yang terjadi saat pertandingan olahraga.

Untuk itu, pihaknya meminta kepada pihak sekolah bekerjasama dengan orangtua agar membina dan mengingatkan para siswanya untuk tidak melakukan aksi kekerasan.

“Seperti saat siswa mengikuti pertandingan harus sportif. Saya miris dengan adanya aksi kekerasan oknum bobotoh Persib hingga korbannya meninggal dunia,” katanya.

Menurut dia, siswa yang usianya masih remaja harus selalu diingatkan agar tidak melakukan hal negatif yang berujung pada kekerasan.

“Kita juga pernah merasakan karena pernah muda. Seperti dalam olahraga tim kita dihina, kita juga langsung panas dan membalasnya, tapi kalau diingatkan tidak akan terjadi sampai kekerasan,” katanya.(pikiran-rakyat.com)

Comments are closed.