84,1% Anak Indonesia Pernah Alami Kekerasan di Sekolah

Saturday 08 September 2018 , 9:35 AM

Ilustrasi (jawilanbisnis.blogspot.com)

KONDISI  keluarga Indonesia saat ini menghadapi berbagai tantangan kompleks. Ada sebuah tren defungsionalisasi keluarga di Indonesia.

Prof. Euis Sunarti mengatakan, ada beberapa permasalahan yang dihadapi oleh anak-anak dan perempuan. Salah satu fakta yang mengejutkan adalah meningkatnya kekerasan di kalangan anak. Sebuah survei yang dilakukan oleh International Center for Research on Women (ICRW) NGO Research di tahun 2014 menemukan sebanyak 84,1% anak Indonesia pernah mengalami kekerasan di sekolah.

“Angka ini tertinggi di antara negara-negara lain di Asia. Selain itu, isu anak lainnya adalah anak yang terlalu terburu-buru, sibuk dan merasa sendiri dalam keramaian,” ujar Professor di bidang ketahanan dan pemberdayaan keluarga, Departemen Ilmu Keluarga dan Konsumen, Fakultas Ekologi Manusia, Institut Pertanian Bogor (IPB), seperti dikutip Okezone dari laman IPB, Rabu (5/9/2018).

Hal itu terungkap dalam 1st International Seminar on Family and Consumer Issues dengan tema “Challenge Family in Asia: Present and Future”, di IPB International Convention Center, Bogor. Kegiatan ini dihadiri oleh sekiranya 100 peserta dari berbagai perguruan tinggi dan lembaga di Indonesia.

Menurutnya, Model Kampung KB berbasis ecovillage menjadi salah satu contoh program pemberdayaan keluarga Indonesia yang berhasil.

Pembicara lainnya dari Malaysia, Thailand dan Australia juga memaparkan permasalahan yang dihadapi di negaranya. Permasalahan keluarga yang dihadapi kurang lebih sama, yaitu berkisar di masalah penggunaan gadget yang berlebihan pada anak, semakin meningkatnya single families, meningkatnya angka perceraian, mundurnya umur menikah dan menurunnya angka fertilitas.

Sementara itu, Wakil Rektor bidang Pendidikan dan Kemahasiswaan IPB Dr Drajat Martianto mengatakan, Indonesia, layaknya negara-negara lainnya, menghadapi tantangan dan dampak dari revolusi 4.0 yang ditandai dengan penggunaan internet yang begitu tinggi.

Informasi beredar bebas, tak terkecuali pada anak-anak. “Bahkan anak-anak pun sudah dapat memesan makanan via gadget. Baik buruknya informasi yang diterima tentunya menjadi tantangan tersendiri bagi keluarga khususnya orangtua,” ujarnya.(news.okezone.com)

Comments are closed.